Cerpen Islami Inspiratif
Kejutan Buat Malaikat Fera Andriani Djakfar “Ya ampuuun…! Beli yang baru, kenapa sih Mbak? Masa isi ulang terus…”, protesku saat kulihat Mbak Lidya menuangkan bedak sachet ke wadah bedak padatnya yang sudah usang. Sangat butut malah. “Ngirit, Dek”, jawabnya ringan seperti biasa. Aku heran pada satu-satunya kakakku ini. Padahal dia seorang Apoteker di Apotik terbesar di kota ini. Belum lagi honornya dari berbagai artikel dan cerpen yang tidak pernah absen di berbagai media cetak. Juga dagangan bajunya yang tiap akhir pekan dia bawa kemana-mana. Tapi hidupnya super irit, bahkan terlalu pelit menurutku. Di zaman yang sudah canggih ini, handphone yang dia pakai masih layar hitam putih, sisa kejayaan masa lalu. Kemana-mana naik sepeda pancal, naik angkot, becak, atau jalan kaki. Jilbabnya biasa saja, dari kain polos seperti anak pesantren. Sepatunya dari karet, katanya biar mudah kalau sewaktu-waktu wudlu. Memang Papa sudah meninggal dan Mama pegawai negeri sipil bi...