Senin, 15 Agustus 2016

Cerpen Kemerdekaan

Luka Merah Putih
Oleh Fera Andriani Djakfar

Setiap bulan Agustus, kawasan perumahan yang ditempati Pak Rohman tampak lebih cantik. Jalanan dan selokan menjadi makin bersih. Hampir tiap teras rumah dihiasi bunga-bunga yang berwarna warni. Bendera-bendera kecil berwarna merah putih dan lampu-lampu hias menambah semarak suasana perumahan tersebut. Tapi semua pemandangan yang tampak indah itu tidak dapat menggantikan kegundahan yang dirasakan Pak Rohman. Beberapa tahun terakhir dia mengidap sindrom tanpa nama yang selalu jatuh pada bulan Agustus.
"Assalamu'alaikum...!" Terdengar suara lelaki menguluk salam. Dengan tertatih, Pak Rohman bangkit dari kursi goyangnya dan beranjak ke teras. Pada pagi hari dia memang berada di rumah seorang diri karena anak dan menantunya bekerja, sementara cucu-cucunya ke sekolah.
"Wa'alaikum salam...!" Jawab Pak Rohman dengan suara agak bergetar. Maklumlah, pita suaranya sudah usang, setua dirinya yang berusia lebih dari delapan dasawarsa. Pandangannya juga sudah kabur, sehingga jika melihat sesuatu dia perlu memicingkan mata. Juga kali ini.
"Mari silakan masuk. Ehm... siapa, ya?"
"Saya Amin, Pak. Pengurus Karang Taruna di kampung ini."
"O, iya. Ada perlu apa pagi-pagi begini?" Tanya Pak Rohman.
"Saya ketua panitia kegiatan bulan Agustus, Pak." Ucapan pemuda itu halus. "Teman-teman telah sepakat untuk meminta Bapak agar berkenan mengisi acara di malam puncak peringatan dirgahayu RI."
Ucapan pemuda tadi tak ubahnya lava panas yang masuk melalui pendengaran, langsung ke hati dan membakarnya. Padahal setiap tahun dia mendengar hal serupa.
"Apa yang bisa saya sumbangkan? Menyanyi? Menari?" Selorohnya.
"Seperti tahun-tahun kemarin, Pak. Bapak mengisi acara Nasihat Sang Pahlawan. Ya, Bapak ceritakan perjuangan Bapak pada zaman penjajahan dahulu. Itu kan bagus buat memberi semangat kami yang masih muda ini."
Pak Rohman tertawa sinis. Itu lebih sopan dari niatnya semula yang ingin mencibir.
"Saya tidak bisa," jawabnya singkat dan tegas.
Amin tampak kaget. Jawaban pria tua di hadapannya benar-benar diluar prediksi. Kata teman-temannya, Pak Rohman mudah dimintai tolong.
"Nasihat Sang Pahlawan. Siapa yang dianggap pahlawan? Bapak?" Tunjuk Pak Rahman ke dada ringkihnya. "Pahlawan anak-anak sekarang, Superman, Batman, Spiderman, Ultraman.... mana ada yang mau mendengarkan nasihat bapak?"
"Tidak semuanya begitu, Pak. Saya jamin, acara Agustusan kali ini berbeda. Lebih ngindonesia, kok Pak. Lagi pula sejak dibukanya Pasar Baru dan Plasa di seberang perumahan, jumlah warga sini bertambah hampir dua kali lipat. Pasti banyak diantara mereka yang belum pernah mendengar cerita dan nasihat Bapak, kan?" Pemuda tadi terus berusaha meyakinkan. "Seperti usulan Bapak tahun lalu, acara malam perayaan tahun ini dibuka dengan doa, lalu paduan suara menyanyikan lagu Indonesia Raya."
"Oh, ya? Siapa yang menyanyikannya?" Selidik Pak Rohman. Ada rasa bangga usulannya tahun lalu didengarkan. Dia memang pernah protes mengapa acara peringatan dirgahayu RI hanya diisi dengan menyanyikan lagu-lagu yang sedang populer di kalangan anak muda saja. Jangan-jangan mereka tidak hafal Indonesia Raya.
"Para pelajar usia SMP, Pak. Cucu Bapak nanti juga kami ajak latihan."
Pak Rohman mulai luluh demi mendengar penjelasan Amin. Apalagi selama ini pemuda di depannya dia kenal sebagai pemuda yang santun.
"Seperti usulan Bapak pula, insya Allah tahun ini tidak ada iuran yang memberatkan warga. Semua dana Agustusan ditanggung oleh tim donatur yang terdiri dari para pejabat kampung kita, juga ada sumbangan dari sponsor. Itu hasil lobi dari bapak-bapak di sini juga."
Pak Rohman manggut-manggut. Tahun lalu dia memang mengusulkan agar iuran wajib bulan Agustus ditiadakan saja. Atau hukumnya diturunkan dari wajib menjadi sukarela. Itu mengingat betapa banyak warga kampung itu yang hidupnya pas-pasan, seperti keluarga anaknya yang dia tumpangi menghabiskan sisa umur.
"Ya sudah kalau begitu. Bismillah, bapak akan maju seperti kemarin-kemarin."
"Waduh... terima kasih banyak, Pak. Teman-teman panitia pasti senang mendengar hal ini. Kalau begitu, saya mohon diri dulu, Pak. " Pemuda itu berdiri, menyalami Pak Rohman dengan takzim, lalu mengucap salam.
Sementara Amin berlalu, Pak Rohman kembali menekuni bacaannya. Di masa tua ini yang bisa dilakukannya hanya membaca dan menulis. Di sore hari dia merawat tanaman hias yang ada di teras. Maklum, rumah-rumah di daerah pemukiman itu saling berhimpitan sehingga masing-masing keluarga tidak ada yang mempunyai halaman. Sebuah teras rumah yang mungil cukup untuk menyalurkan hobinya pada tanaman seperti waktu di kampung dulu. Dia terpaksa hijrah ke kota atas permintaan putri bungsunya setelah sang istri berpulang lima tahun yang lalu.
Sejak tinggal di perumahan ini, tiap perayaan malam kemerdekaan di bulan Agustus Pak Rohman selalu mengisi acara rutin Nasihat Sang Pahlawan. Pada tahun-tahun pertama para audiens mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun tiga tahun belakangan rupanya mereka telah hafal dengan cerita dan nasihatnya. Sudah jarang yang memerhatikan dengan seksama. Kebanyakan mengobrol satu sama lain, kecuali para bapak yang duduk tepat di depan panggung. Beberapa dari mereka pun terkantuk-kantuk. Namun begitu menginjak acara selanjutnya, karaoke bersama, sontak mereka bersemangat kembali. Itulah yang membuat Pak Rohman sakit hati. Tahun ini ditekadkannya untuk tidak naik panggung lagi. Namun demi mendengar penjelasan Amin, dia menaruh harapan agar tahun ini betul-betul ada perubahan.
                                                            *********
Hari demi hari berlalu, tibalah waktu dilaksanakannya malam peringatan Kemerdekaan RI yang kesekian puluh. Pak Rohman merasa cukup lega karena tahun ini memang tidak ada pungutan dana ini itu. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika anak dan menantunya sangat terjajah dengan berbagai iuran. Mulai dari iuran menghias gang, dana perbaikan jalan, dana perlombaan, sampai iuran untuk membeli tong sampah baru. Seolah keberadaan sampah baru terasa di bulan Agustus.
Sore itu Pak Rohman menyempatkan diri melihat persiapan panggung yang letaknya beberapa blok dari rumahnya. Dan betapa terkejutnya dia setelah melihat dengan mata kepala sendiri, betapa artistiknya panggung hiburan tahun ini. Latarnya berupa lukisan pada kain yang sangat lebar, bergambar jalanan yang masih lengang dan belum beraspal. Di kiri kanan dilukiskan beberapa orang pejalan kaki dengan menyunggi bakul. Betul-betul menggambarkan Indonesia tempo doeloe. Suasana diperkuat dengan diparkirnya sebuah sepeda kuno merk Hamburg di atas panggung. Dia penasaran, siapa sih yang mempunyai ide kreatif seperti ini?
"Nak, panggungnya bagus sekali, ya!" Puji Pak Rohman dengan tulus pada salah seorang anggota Karang Taruna yang sedang menata kursi. Pemuda itu membalas dengan senyum kecut.
"Iya, Pak. Memang bagus...!" Ada nada ketus yang aneh, berlawanan dengan pujiannya. Pak Rohman merasakan itu.
"Ide siapa ini?"
"Nggak tahu, Pak. Dalam rapat kemarin tidak dibahas. Tadi sekelompok seniman ibu kota datang dan menata panggung utama. Sisanya kami yang melengkapi."
"Jadi bapak-bapak sini yang menentukan semua?"
"Begitulah, Pak. Bagaimana lagi? Yang mendanai acara ini mereka juga."
"Susunan acaranya apa saja?"
"Kami tidak tahu persis. Beberapa acara dirahasiakan oleh bapak-bapak itu."
"Lho, kok gitu? Lalu sebagai pemuda kalian berperan apa?"
"Ya, ngangkut barang-barang yang diperlukan. Maklum, kami tidak ikut menyumbang dana, sih. Yang berduit yang berkuasa, Pak.... kami aja penampilan dibatasi. Hanya sebentar saja yang boleh tampil! " Ada kekesalan yang terselip dalam kata-kata pemuda itu. Pancaran yang sama juga terbersit dari wajah-wajah panitia yang lain.
Pak Rohman miris mendengar hal itu. Maksudnya ketika melontarkan ide agar dana Agustusan ditiadakan tak lain agar acaranya cukup dilaksanakan dengan sederhana, namun khidmat. Bukannya bertambah mewah dengan gejala dominasi dan monopoli seperti ini. Apalagi sampai mengebiri kreativitas para pemudanya.
 Dengan langkah gontai penuh kekecewaan, Pak Rohman pulang. Bagaimanapun juga nanti malam dia harus tetap tampil sesuai janjinya.
*********
Suasana Malam Peringatan Kemerdekaan RI tahun ini sangat meriah dan terkesan glamour. Dendang lagu-lagu dengan volume yang memekakkan telinga telah diperdengarkan beberapa menit setelah adzan Maghrib. Para jemaah yang shalat di Mushalla kampung belum lagi menyelesaikan dzikirnya.
Tak lama setelah itu Pak Rohman datang ke acara bersama anak, menantu dan cucu-cucunya. Acara ini memang diperuntukkan seluruh anggota perumahan tanpa terkecuali.
"Pak, nanti kalau penontonnya cuek jangan marah-marah, lho. Ntar jantungnya kumat lagi!" Pesan putrinya. Lelaki tua itu mengangguk. Keluarga besar itu memilih duduk di depan, dekat dengan panggung.
Acara dimulai pukul setengah delapan malam, mundur satu jam dari yang tertera di undangan karena Pak Lurah yang sedianya membuka acara masih berada di tempat lain. Keterlambatan yang menyiksa, namun telah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Budaya menghormati yang terlambat.
Bertindak sebagai presenter, seorang gadis yang tampil menarik, lincah, dan berpakaian seksi. Awalnya tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Namun lama kelamaan dari canda dan cara membawakan acara, banyak yang mengenalinya sebagai salah seorang penyiar radio lokal.
Acara diawali dari pembukaan dengan membaca Basmalah, tidak ada doa mensyukuri kemerdekaan seperti permintaan Pak Rohman. Kemudian pengumandangan lagu Indonesia Raya dan Gugur Bunga oleh belasan pelajar berseragam sekolah menengah pertama. Para penonton yang memang menyukai perubahan, terkesan dengan penampilan perdana kelompok paduan suara dadakan itu. Entah bagaimana reaksi mereka tahun depan. Bisa jadi tidak sama lagi, dirundung kebosanan. Acara selanjutnya sambutan-sambutan. Lalu tiba giliran Pak Rohman. Ketika namanya disebutkan, sayup-sayup dia mendengar sorakan "huuu" dari penonton. Tapi karena terlanjur dipanggil oleh pembawa acara, dia pantang mundur.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokaatuh...!" Pejuang 45 itu membuka dengan salam yang lantang. Penonton menjawab dengan lantang dan kompak. Timbullah semangat Pak Rohman untuk meneruskan aksinya. Dia mulai bercerita bagaimana dia dulu merobeki warna biru yang ada pada bendera Belanda yang ditemukannya di jalan-jalan. Sehingga kompeni marah karena dimana-mana sang saka Merah Putihlah yang berkibar.
"...namun karena bapak melakukan ini di kampung-kampung, bapak tidak terkenal. Berbeda dengan kawan bapak yang dengan berani merobek bendera Belanda yang ada di halaman hotel. Dia gugur sebagai pahlawan yang diabadikan dalam film perjuangan...!"
Di bawah panggung beberapa remaja berbisik. "Film perjuangan? Yang mana?"
"Mene ge tehek?" jawab kawannya dengan bahasa gaul.
Pak Rohman masih meneruskan cerita dan nasihatnya. Namun lama kelamaan semangat lelaki itu kendor karena satu persatu audiennya mengobrol. Beberapa remaja, bahkan diantara mereka adalah panitia, asyik bermain dengan gadgetnya sambil cekikikan. Pak Rohman sadar, mungkin saatnya dia turun panggung. Padahal masih banyak yang ingin dia sampaikan, terutama tentang pendidikan moral. Terakhir dia berpesan, "Mestinya para pemuda kita harus lebih kreatif dalam membangun bangsa. Berlatihlah dari membangun kampung sendiri. Jangan mau didikte oleh para penguasa. Ingat! Bung Karno membacakan proklamasi karena desakan para pemuda. Anak-anak muda seperti kalian, tapi dengan semangat yang betul-betul berbeda...." Sindirnya.
Karena tidak ada reaksi dari penonton, Pak Rohman pun menyudahi pidatonya dengan salam. Kali ini hanya beberapa orang saja yang menjawab, itupun tidak kompak.
"Terima kasih buat Pak Abdurrohman, pejuang kita. Semoga nasihat Bapak bermanfaat buat kami semua, para generasi muda. Baiklah, acara selanjutnya... acara yang sudah kita tunggu-tunggu. HI BU RAAN...!" Sang presenter mengeja ucapannya untuk menarik perhatian penonton. Benar saja. Dalam sekejap terdengar sorakan gembira yang gegap gempita. Yang mengantuk terjaga, yang asyik WA-an dan BBM-an mengantongi kembali ponselnya. Bahkan yang mengejar Pokemon berhenti sejenak.
"Yeah... kita sambut dengan hangat... Merah Putih Band!" tiba-tiba latar panggung yang bergambar lukisan Indonesia tempo dulu disibak. Di baliknya telah siap sebuah band yang langsung beraksi. Seluruh personil band itu mengenakan seragam kombinasi warna merah dan putih. Sang vokalis muncul dari belakang panggung, dengan mengenakan tank-top, tanpa lengan dan tanpa krah berwarna merah dan celana super pendek dan ketat berwarna putih. Penonton bersorak dengan semangat. Apalagi ketika gadis itu membawakan lagu yang sedang populer, ditambah dengan goyang maut memabukkan.
Pak Rohman geleng-geleng kepala. "Masya Allah...!" Air matanya nyaris tumpah karena sedih. Samar-samar dia seakan melihat kawan-kawan seperjuangannya yang kini telah beristirahat di Taman Makam Pahlawan juga menangis bersamanya.
Anaknya memahami keadaannya. "Pak, sabar ya Pak...!" Teriak anaknya yang terdengar seperti bisikan. Kalah oleh suara musik yang binal.
Setelah lagu pertama selesai, sang vokalis berdialog dengan penonton. Tentu dengan gaya yang genit menggoda. Pak Rohman tidak tahan lagi. Tanpa memedulikan larangan anak dan cucunya, dia kembali naik ke atas pentas. Direbutnya mikrofon dari tangan si biduan.
"Andai kami tahu sejak awal... bahwa kemerdekaan hanya disyukuri dengan hal-hal seperti ini...," Pak Rohman berusaha berbicara dengan lantang, meski suaranya serak karena usia tua dan air mata yang tertelan di tenggorokan. Penonton terdiam, terkejut dengan aksi yang di luar dugaan ini.
"Andai kami tahu dari dulu bahwa sang saka merah putih lama kelamaan akan dilecehkan anak cucu sendiri... kalau kami tahu bahwa dengan dijajah kecintaan kami pada negri ini menjadi lebih tulus...," Pak Rohman mulai menangis sedih, namun kata-katanya tetap tegas."Maka lebih baik... kita tidak usah... MERDEKA!!" Teriaknya lantang.
Kemudian lelaki itu jatuh tersungkur dan tidak pernah bangun lagi.
                                                           
                                                                                               




Cerpen Reuni

HONA... OH HONA
By Fera Andriani Djakfar


“Mah, malam ini Ayah keluar sama teman-teman lagi, ya?” Pamit suamiku.
“Iya sana!” Jawabku dingin. Toh dia gak bakalan bisa dilarang kemauannya. Sejak bertemu kembali dengan kawan-kawan SMP-nya hampir setiap hari dia keluar rumah untuk bertemu teman-temannya. Kalau aku mulai marah dan curiga, dia hanya tunjukkan HP-nya agar aku membaca sendiri ribuan chat di akun Whatsapp-nya.
“Apaan ini? Pake Bahasa Madura, lagi. Tambah bikin bete, tau...!” ujarku yang kadang sampai ngambek. Tapi dia malah terus-terusan tertawa dan asik dengan HP-nya. Aku yang asli Sunda dan sama sekali tidak mengerti Bahasa Madura jadi semakin sumpek.
“Gak ke cafee kok Mah, Cuma ke Hona aja...,” ujarnya.
“Hona tuh mana? Restoran Jepang? Awas ngabisin duit lagi!” Ancamku. Sebab kemarin aku temukan struk pembayaran berbagai minuman dan kue di sebuah coffee shop terkenal di Mall.
“Nggak, deh. Dijamin super ekonomis kalau di Hona,” katanya.
Aku pura-pura sudah tidur. Setelah kudengar motornya berlalu, segera aku beranjak menuju meja kerja suamiku untuk menyalakan laptop. Sudah lama aku ingin mencari tahu tentang “Hona” ini. Sebab dari ribuan chat di HP suamiku, Hona selalu menjadi trending topic. Apalagi salah satu temannya, selalu berteriak dalam chating-nya: Hona... Hona....!
Aku buka mesin pencari Google dan menulis kata kunci: Hona
Google menjawab, “Mungkin yang Anda maksud Honda
Kalau Honda mah aku juga tau, Gel... ujarku dalam hati dengan kesal sambil terus menekan “enter” untuk memastikan bahwa memang “Hona” yang aku cari.
Tak lama kemudian.... muncullah berbagai gambar dengan keyword Hona yang semakin membuatku panas hati. Ada gambar beberapa wanita cantik disana. Fraulain Hona, Hano Hona, Hona Sanjaya, dan banyak lagi. Ada juga beberapa judul film India. Hona Tha Pyaar, juga Kahona Pyaar Hai. Semua menampilkan wanita-wanita cantik dan sexy.
“Ya Allah... beri hamba petunjuk.... Hona manakah yang sering dikunjungi suami dan kawan-kawannya?” Aku menangis sendiri. Kuintip kedua anakku masih tidur pulas di kamar mereka. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, dan suamiku belum datang juga. Akupun tertidur dengan kegundahan yang semakin menjadi.
“Mah... bangun Mah...!” Suamiku membangunkan.
“Apa? Jam berapa ini?” Tanyakuk masih dengan rasa kantuk yang amat sangat. Juga kepala terasa pusing dan berat karena beban pikiran sebelum tidur yang kubawa ke alam bawah sadar.
“Jam satu malam. Lagi ngerjakan apa kok laptopnya nyala?” Tanya suamiku. “Udahan, belum nulisnya?”
“Haah!!” astaghfirullah... segera kumatikan laptop di meja. Mudah-mudahan suamiku tadi tidak melihat apa saja yang kubuka di internet. Kulihat dia sudah terlelap dengan senyum mengembang. Betapa bahagianya dia memalui malam ini bersama teman-temannya... dan si Hona itu.
*********
Pagi ini, aku niat ngambek. Ya, betul-betul keterlaluan sudah. Aku yang rela belasan tahun meninggalkan keluarga besarku untuk ikut suami ke Madura, akhirnya harus disia-siakan seperti ini. Biasanya aku menyiapkan sarapan untu keluarga. Pagi itu sehabis shalat Shubuh aku tidur lagi. Gak peduli sama anak-anak, toh mereka sudah besar-besar. Yang paling kecil aja sudah kelas dua SD dan biasa mandi sendiri, sarapan sendiri. Biasanya tugasku mengantar anak ke sekolah. Tapi biarlah pagi ini ayah mereka yang mengantarkan. Toh anak juga anak bersama. Dia bersenang-senang semalaman bersama Hona, sekarang rasakan akibatnya. Kutarik selimut lebih rapat, dan tidur. Meskipun tidak nyenyak juga karena ini melawan kebiasaanku.
Kudengar sayup-sayup dari balik selimut anak-anak menanyakanku.
“Mamah kenapa Yah? Sakit ya Yah?” tanya anak bungsuku.
“Iya, sudah jangan ganggu Mamah. Biarkan Mamah istirahat!” Ujar suamiku sambil menguap. Mungkin dia masih mengantuk. Naluri keibuanku tidak tega membohongi anak-anakku. Tapi ini demi memberi pelajaran ayah mereka agar tidak seenaknya saja.
Awalnya aku pura-pura tidur, tapi akhirnya pulas juga. Kamar sudah terasa begitu gerah. Rupanya hari sudah siang. Badanku pegal-pegal sungguhan. Bukannya kecapekan, tapi karena kurang gerak. Selama ini yang membuat para ibu rumah tangga lebih sehat adalah karena banyak gerak. Dari mulai berjalan ke tempat belanja, masak, mencuci, dan sebagainya. Karena suasana begitu sepi, kukerjakan juga kewajibanku yang terbengkalai.
Di atas meja makan ada sebungkus nasi yang masih terbungkus rapi. Di sekitarnya ada tiga bungkus yang berserakan. Rupanya suamiku membeli sarapan nasi bungkus, dan menyisakan satu untukku. Habis berapalah itu semua? Mungkin menghabiskan jatah belanja sehari hanya untuk belanja sarapan. Pikiran ekonomis keibuanku berjalan.
Di sekitar kamar mandi baju-baju kotor anak-anak masih berserakan. Biasanya ketika adzan Dzuhur berkumandang aku sudah selesai mengambil baju dari jemuran. Kutinggal shalat Dzuhur, lalu melipat baju atau menyetrika. Sekarang adzan sudah berkumandang dan akupun belum mulai mencuci. Sungguh ngambek itu ternyata menyiksa diri sendiri. Hhfffhh...!!!
“Assalamu’alaikum, Mah...!” suamiku datang. Sebagai seorang wiraswatawan memang datang dan perginya tidak bisa diprediksi, tidak seperti orang kantoran yang jadwalnya rutin. Bahkan kata suamiku, salah satu temannya di grup SMP juga, ada yang pada jam tertentu pasti sedang berada di KRL.
“Waalaikum salam...!” Jawabku dengan suara diserak-serakkan.
“Oiya... anak-anak tadi pulang pagi karena guru-gurunya ada acara. Terus mereka aku titipkan di Mbak Dewi.” Rupanya dia mengira aku sakit sungguhan dan menitipkan anak-anak di rumah kakak perempuannya.
“Oh, iya gak apa-apa. Lagian besok kan tanggal merah, libur.”
“Iya. Trus, nanti malam kita juga biar punya waktu untuk jalan berdua aja.”
Gak salah, nih? Biasanya jalan sama teman-temannya terus akhir-akhir ini... Tapi aku tidak mengucap kalimat itu. Aku hanya mengangguk saja.
*********
Rasanya tidak sabar menunggu malam. Aku tidak tahu kemana suamiku akan membawaku. Apa jangan-jangan dia membawaku ke Hona? Untuk dibanding-bandingkan, gitu? Ohh... aku tidak bisa membayangkan harus bagaimana jika bertemu wanita itu nanti. Terbayang di Google semalam tentang berbagai sosok Hona.
Aku berdandan semodis mungkin, dengan pakaian ala hijaber terbaru. Idenya kudapat dari rancangan Saskia Sungkar, yang membuat aku tampak lebih muda beberapa tahun jika memakainya. Make-up yang kupakai juga yang spesial kupakai ke acara resepsi.
“Alamaak... ke Hona pakai kayak gitu?” Pekik suamiku kaget melihat penampilanku. Tuh kan benar dugaanku. Dia akan mengajakku ke Hona idolanya.
“Emang kenapa?” Aku melotot sewot. Kulihat dia mengulum senyum, lalu memotretku. Pasti deh dikirim ke teman-temannya di grup WA heboh itu, pikirku. Tapi kali ini aku yakin aku tidak kalah dengan si Hona.
Suamiku mengajak naik motor keliling menikmati suasana malam liburan, lalu berhenti di selatan alun-alun kota Bangkalan. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Udara mulai terasa dingin menusuk, dan akibatnya perut pun makin terasa lapar. Aku heran karena suamiku dari tadi mau mengajak makan di Hona, tapi kok sampai jam segini masih belum mengajak juga? Bisa jadi setelah melihatku berdandan dia jadi berpikir dua kali. Jangan-jangan sekarang dia berpikir Hona yang minder padaku. Hhhh... rasakan, kau Hona!
Setelah memarkir motor, suamiku menggandeng tanganku menuju sebuah tempat makan lesehan. Ya, sebuah lapak sederhana beralaskan tikar. Rupanya ada beberapa orang disana yang sedang asik makan. Aroma teri goreng dan sambal menusuk hidung, menyerang rasa lapar yang tertahan sejak tadi. Setelah kami duduk, suamiku memesan dua porsi. Lalu dia mengajakku selfie. Wah, pasti lagi-lagi mau dikirim ke teman-teman hebohnya,
“Mah, disinilah ayah dan teman-teman cangkruk sampai malam.”
Aku celingukan, mencari wajah-wajah yang kulihat di Google semalam. Kulihat penjualnya, seorang wanita tua yang ramah dan cekatan meladeni para pembeli.
“Ini pesanan sampean Nak...,” kata penjual itu. Suamiku yang menerimanya.
“Makasih, ya Mak Hona!” Ujar suamiku.
“Apaaa??” ucapku kaget.
“Kenapa? Kaget, ya setelah lihat Miss Hona? Hehe...” Goda suamiku. “Makanya Mah, jangan keburu curiga dulu. Itu lho yang namanya Mak Hona.”
Aku tersipu malu. Mungkin semalam dia memergoki yang kucari di internet. “Ayah juga sih... seru-seruan sama teman-temannya terus...” Ujarku dengan memelas. Andalanku untuk meluluhkan hati suami.
“Duh... cup-cup yaa... Ayah minta maaf deh. Iya, ini kan lagi seneng-senengnya ketemu teman-teman. Mamah pasti juga akan begitu kalau sudah reunian.” Ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku. “Ayuk dimakan... gak enak tuh dilihat sama ‘saingan’ Mamah,” bisiknya sambil melirik ke Mak Hona yang mungkin karena kecapekan dengan nyaman dia merebahkan diri di atas tikar. Posisinya seperti putri duyung yang terdampar di pantai. aku senyum-senyum sendiri membandingkannya dengan berbagai Hona di Google semalam.
Ternyata tidak salah kalau suami dan teman-teman sangat suka nongkrong disana. Suasana malam yang dingin berdansa dengan hangatnya nasi dan teri goreng bersanding sambal. Kami pun puas bercanda dan bercerita, hingga suamiku sempat lupa dengan HP-nya. Setelah dilihat, ada 479 chat di grup WA-nya. Tapi itu tidak lagi menggangguku. Sebab ternyata yang membuatnya asyik selama ini bukan apa yang dia makan, bukan siapa yang melayani dia makan, tapi kebersamaan dengan kawan-kawan itulah yang memperindah suasana.
Tiba-tiba HP-ku berdentang tidak seperti biasanya. Kulihat secara mendadak ada puluhan notifikasi WA, lalu segera jadi ratusan. Rupanya seorang kawan memasukkan aku ke sebuah grup.
“Ya Allaah... Yaaah... ini kan teman-teman SMA mamah? Ya Ampuun... nih ada si Atun, Iche, ya Allaah....hihi..” Akupun asik berbalas canda. Tak kuhiraukan lagi suamiku yang juga sik dengan HP-nya. Toh inilah gaya pasangan zaman sekarang..., mau gimana lagi??
Tak terasa Mak Hona permisi akan menggulung tikarnya.

                                                                Bangkalan, 15 Agustus 2016
       Buat teman-teman SMP 2 alumni’95 yang sedang dimabuk "Hona"


Minggu, 07 Juni 2015

Cerpen Islami Inspiratif

Kaos Kaki di Meja Makan


“Jadi, gitu ya teman-teman. Selama seminggu aja, kok.” Lulu mengakhiri pembicaraannya. Dia minta izin teman-teman sekontrakannya untuk mengajak ponakan kecilnya tinggal bersama mereka selama kurang lebih seminggu karena ditinggal orang tuanya pergi umroh.
“Ya ampyuun, Lulu. Kirain ada apa, gitu loh. Kalo Cuma ngajak ponakan ke kontrakan kita mah gak rempong…! Jangankan seminggu, setahun pun gak masalah. Anak kecil ini,” komentar Rida si anak gaul.
“Iya, tapi kalian gak tau anak macam apa si Cici itu….” Ujar Lulu dengan nada pasrah. “Andai Mamahku gak ikutan bareng umroh sama Kak Halim sekeluarga, mendingan si Cici kutitipkan Mamah. Tapi nih semuanya pergi umroh rombongan. Kak Halim, Mbak Nilam istrinya, mertuanya, dan Mamah. Cuma aku aja yang gak diajak.”
“Yach, belum taqdirmu aja, Lu. Ibadah umroh sama haji itu kan urusan taqdir,” Ujar Nella dengan bijak. Diantara empat orang di rumah kontrakan itu, Nella yang paling dewasa sikapnya.
“Iya, taqdirku jagain si Cici.” Komentar Lulu pasrah.
“Hm… maaf ya Lu. Emangnya si Cici itu anaknya gimana? Hm… nakal ya?” Tanya Memey penasaran. Mata sipitnya makin sipit. Nama aslinya Maimunah, tapi karena mirip dengan Memey di serial Upin Ipin, jadilah sekarang dia dipanggil Memey. Apalagi sama-sama kutu buku dan suka ceroboh.
“Malah sebaliknya! Anaknya tuh beda. Umur delapan tahun, tapi kayak orang dewasa gitu sikapnya. Kalo aku nginep di rumah mereka tuh ya, rasanya kayak di tempat tentara latihan. Jam segini gini, lalu gitu, trus kegiatan ini itu… pokoknya padat deh. Kakakku aja yang dulu waktu belum nikah malesnya minta ampun, sekarang udah ketularan anak dan istrinya yang gak bisa diem itu…,” Cerita Lulu.
“Waah… harusnya kamu tuh lebih lama tinggal bareng mereka Lu. Biar sembuh juga malesmu… haha… peace Mbak Bro…!” Komentar Rida ceplas-ceplos dan baru berhenti setelah dicubit oleh Lulu. Memang diantara mereka berempat Lulu yang terkenal paling malas dan ceroboh. Disusul oleh Memey. Sama-sama suka ngambek juga.
“Masbuloh…!!??” Lulu sewot.
“Udah, udah! Ya mestinya kan enak ya teman-teman. Kita kedatangan teman kecil yang lucu, semoga jadi hiburan buat kita selama beberapa hari ke depan. Emang kapan dia datang kesini Lu?” Tanya Nella.
“Besok aku pulang dulu, ada selamatan di rumah untuk rombongan umroh ini. Trus lusa pagi-pagi banget aku ikut ngantar rombongan ke bandara, habis dari sana aku sama Cici langsung diantar kesini. ” Lulu menjelaskan. Jarak dari rumah kontrakan itu ke rumah Lulu sekitar lima puluhan kilometer. Lulu memilih tinggal di kontrakan yang dekat kampus dari pada tinggal di rumah mamanya tapi harus terburu-buru untuk berangkat kuliah. Padahal sepeninggal papanya, mamanya hanya tinggal seorang diri. Mereka hanya dua bersaudara, Halim dan Lulu. Untung Halim sekeluarga tinggal hanya beberapa ratus meter dari rumah sang mama.
“Sip markusip… berarti lusa Cici sudah disini. No worries Lulu chayank… kita gak apa-apa, keleus...! Ntar Cici bisa milih mau bobo dimana. Kayaknya lebih memilih kasurku yang kayak tempat tidur beneran. Dari pada kasurmu yang kayak terminal itu…haha…” Ujar Rida terus menggojlok kecerobohan Lulu.
Rumah kontrakan itu ukurannya cukup besar, terdiri dari dua kamar yang berukuran luas. Bahkan di dalamnya muat untuk tiga kasur spring bed sekalipun. Tapi sudah menjadi aturan bersama yang sudah mereka sepakati, jika ada anggota keluarga perempuan yang mau menginap di sana karena sedang berkunjung atau keperluan lain, harus sepengetahuan dan seizin teman satu kontrakan. Kalau tamu laki-laki hanya boleh duduk di teras depan. Selama setahun lebih kebersamaan ini aturan tersebut selalu mereka patuhi bersama. Lulu sekamar dengan Rida, Nella sekamar dengan Memey.
*********
Hari yang dinantikan pun tiba. Kebetulan semua anggota rumah sedang tidak punya jadual kuliah siang itu. Mereka penasaran dengan sosok Cici yang membuat Lulu tantenya sendiri merasa kurang nyaman. Tak lama berselang sebuah mobil mewah besar berhenti di depan rumah kontrakan. Tampak Lulu turun bersama seorang anak perempuan yang membawa sebuah kopor besar.
“Eh… kopornya segitu besar? Emangnya anak itu mau umroh juga apa ya?” Celetuk Rida. Nella memberi isyarat agar kawannya diam, takut terdengar oleh Lulu atau bahkan Cici sendiri.
“Assalamu’alaikum…!” Lulu menguluk salam. Teman-temannya membalas sekedarnya karena perhatian mereka terfokus pada gadis cilik berjilbab itu.
“Hai… ini pasti yang namanya Cici ya? Met ciyang…! Kenalin ya, akooh Kak Rida.” Rida memperkenalkan diri dengan lincahnya. Cici hanya memandang kearah gadis yang menyapanya. Dari penampilan dan wajahnya, seolah seperti gadis cilik pada umumnya. Tapi sorot matanya… sangat berbeda.
“Assalamu’alaikum, Kak Rida!” Sapa balik Cici sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman, dengan penampilan sangat bersahaja. Rida jadi kelimpungan. Biasanya dia yang paling berkuasa di segala suasana.
“Mati kutu loh…! SKSD, sih…!” Bisik Memey padanya sambil mentertawakan Rida yang memang suka Sok Kenal Sok Dekat. Mungkin untuk pertama kali inilah Rida tampak canggung bertemu seseorang yang baru dikenalnya. Dan itu pemandangan lucu bagi sahabat-sahabatnya.
Setelah semuanya bersalaman dengan Cici, mereka semua masuk ke ruang tamu. Sementara Lulu membawa kopor keponakannya ke dalam kamarnya.
“Hm… jadi gak masuk sekolah nih selama papa sama mama umroh?” Tanya Nella untuk mencairkan suasana. Karena sahabat-sahabatnya tiba-tiba jadi penakut dan bernyali kecil untuk bicara.
“Gurunya diminta libur sementara,” jawab Cici. Yang lain tampak keheranan. “Saya tidak bersekolah di lembaga apapun. Saya menjalankan homeschooling,” lanjut Cici lagi. Ketika mengatakan “homeschooling” lidahnya sudah seperti orang bule.
“Oooh…!” Nyaris serentak para gadis itu ternganga.
Pantesaan… lha kalo gaya gini mah gimana mo punya temen di skolah? Batin Rida.
“Ehm… maaf Kakak-kakak, saya permisi dulu mau menata barang-barang saya.” Cici berlalu dengan sopan dan anggunnya menuju kamar tantenya. Rida langsung mengekor di belakangnya, diikuti oleh sahabat-sahabat yang lain. Mereka penasaran dengan barang-barang bawaan Cici.
Untunglah ada Lulu di kamar itu, sehingga pembicaraan agak cair. So far so good, tidak ada yang aneh dengan kehadiran Cici di rumah kontrakan itu. Apa sih yang bisa diperbuat oleh seorang gadis cilik yang membawa kopor besar berisi tumpukan buku tebal dan sebendel kertas origami, asturo, gunting, cutter??? Setidaknya seharian itu. Karena esok paginya….
*********
“Memey… Nella… bangun…!!” Rida membangunkan tetangga kamarnya. Nella pun membuka pintu dengan mata masih setengah tertutup dan terus menguap.
“Emang sudah subuh, ya?” Tanya Nella sambil terus menguap. Biasanya dia sudah bangun, tapi tadi malam ternyata masih mengerjakan tugas sampai larut.
“Beluuum… tapi akooh sudah dibangunin sama si Polici…!”
“Polisi? Ada apa?” Memey ikut nimbrung. Mata sipitnya tiba-tiba melebar. Jangan-jangan selama ini dia hanya menyamar bermata sipit.
“Itu, si Cici. Duh, sekarang akooh panggil si polici aja deh kalo lagi gak ada si Lulu. Ini jam segini dia udah ribut. Enak-enak tidurin dibangunan…!”
“Hush! Enak-enak tiduran dibangunin… dasar anak gaul kebablasan kamu Rid. Ya syukurlah biar kita bisa tahajud. Ayolah, toh demi kebaikan kita juga,” ujar Nella mengakhiri aduan si Rida. Mereka pun shalat Tahajjud di kamar masing-masing. Ketika menjelang Shubuh….
“Kakak-kakak… ayo sini shalat berjemaah!” Cici mengetuk pintu kamar Nella dan Memey. Penghuninya sedang terkantuk-kantuk menunggu adzan.
“Ayo Kakak… pahalanya lebih afdol dua puluh tujuh derajat lho ya…!” Cici terus mengetuk pintu. Nella dan Memey pun pergi ke kamar sebelah. Mereka pun berjemaah berlima. Biasanya sih  mereka sholat sendiri-sendiri. Yang bangun duluan sholat duluan, trus bangunin yang lain.
Yach, apa salahnya sih berubah menuju hal yang lebih baik? pikir mereka. Ternyata dengan berjemaah serasa ada yang berbeda. Apalagi setelah sholat bersalam-salaman. Jujur saja, meskipun setahun sudah mereka bersama, tapi jarang sekali mereka saling bersalaman kecuali Nisfu Sya’ban dan lebaran.
Sehabis sholat Shubuh para gadis itu terkantuk-kantuk dan tertidur di kamar masing-masing. Hingga….
“Nella… Mey… bangun dong!” Kali ini Lulu jadi duta ke kamar sebelah. Dua sahabatnya terbangun sambil menguap menahan kantuk.
“Ada apa lagi sih Lu?” Tanya Memey.
“Ehm… tentang rumah ini. Jangan kaget, ya… ponakan tersayangku bikin ulah,” ujar Lulu pelan.
“Apa Lu? Kenapa? Kebakaran ya? Banjir air kran??” Tanya Memey bertubi-tubi menyebut berbagai kemungkinan.
“Ya gak segitunya, kelleeus…!” Lulu sewot. “Dah, liat aja sendiri. Pokoknya pesanku, jangan marah sama Cici. Bisa-bisa uang sakuku dipotong sama kakakku!”
Tiba-tiba rasa kantuk Nella dan Memey hilang. Mereka segera keluar kamar, mencari-cari apa ada hal yang aneh. Sepintas terlihat sama saja, semua benda masih menapak di lantai. Tapi, di dinding….
YOU ARE WHAT YOU THINK![i]
Di ruang tamu terdapat tempelan slogan tersebut, terbuat dari kertas Asturo pelangi berwarna cerah. Font yang dipakai sangat pas, guntingannya sempurna. Para gadis itu terperangah. Kejutan tidak berhenti di situ. Di setiap saklar, terdapat berbagai tulisan kecil di bawahnya. Kali ini masih di kertas Asturo, tapi ukurannya kecil dan tulisan memakai spidol.
“Save Energy, Save Money, Save Earth!”[ii]
Seakan masih baru pindahan, para gadis itu berkeliling ke seluruh ruangan dan mencari-cari tulisan lain. Di pintu kamar mandi, juga terdapat tulisan:
“Orang Bijak Memakai Air dengan Bijak”
Mereka geleng-geleng kepala. Kapan si Cici melakukan itu semua? Pasti saat mereka tertidur manis sehabis Shubuh tadi.
“Assalamu’alaikum, Kakak-kakak…!” Sapanya. Wajahnya tampak segar. Padahal tadi malam ketika Lulu pamit tidur, Cici belum mau tidur. Dan Cici pula yang bangun terlebih dahulu membangunkan seisi rumah dengan ajakan Tahajjudnya. Mulai terasa bahwa gadis cilik ini berbeda.
“Maaf kalau saya tidak sopan, Kakak.” Katanya sambil tersenyum. Ya, awalnya Memey mau protes. Dia paling tidak suka ada tempelan-tempelan di mana-mana. Tapi permohonan maaf Cici begitu tulus.
“Saya suka peraturan,” katanya lagi. “Dan sejak saya datang kemarin, saya perhatikan di rumah ini minim aturan.”
“Braak…!!” Ada yang runtuh di hati para penghuni kontrakan, tepat setelah suara lembut Cici berkumandang. Lembut, tapi meledakkan. Seperti ranjau dalam semangkuk es krim. Lulu merasa sangat tidak enak. Tapi dia bersyukur sudah pernah memberi gambaran sosok Cici pada para sahabatnya.
“Kemarin siang saat saya datang, beberapa lampu masih menyala. Sewaktu saya ke kamar mandi, air di bak mandi meluap-luap dan sepertinya Kakak-kakak tidak panik menghadapi itu semua. Berarti ini sudah biasa,” Cici terus berkomentar. Membuat nyali semua gadis di sekitarnya ciut.
“Hm… sorry ya. Saya ada kuliah pagi. Mau mandi dulu…,” Nella pamit.
Macacih? Perasaan kita masuk siang, kelleus…!” Ujar Rida yang satu jurusan dengan Nella. Dia tidak paham bahwa  pamitnya Nella hanya untuk mengalihkan suasana. Dia baru sadar setelah Nella mengedipkan mata. Memey pun juga berpamitan. Tinggal Lulu yang masih mematung di sebelah keponakannya.
Duh, baru hari kedua Cici di sini sudah seperti ini suasananya. Batin Lulu. Tapi untuk mengungkapkan protes apa-apa dia tidak berani.
*********
“Sebeeeel…! Rasanya akooh tuh kayak bukan sekamar sama anak kecil. Tapi kayak sama nenek-nenek mantan tentara, gitu.” Rida mengungkapkan perasaannya. Dia lebih betah berada di kamar Nella dan Memey. Dia bercerita kalau setiap tindakannya dikomentari. Mulai dari bangun tidur disuruh baca doa, mau masuk kamar pakai salam, pakai kaki kanan duluan untuk masuk kamar, dan sebagainya.
“Pokoknya ‘Afgan’ banget dah tuh anak dalam berkomentar!” Tambahnya. Yang dia maksud adalah “sadis”, judul lagu populer dari Afgan. Tak lama Lulu pun masuk, dan dengan lagu lama. Permintaan maaf untuk segala yang diucapkan dan dilakukan keponakannya. Para sahabatnya menanggapi lagu lama itu dengan komentar aus pula. Itu-itu aja dialog mereka.
*********
Di hari yang lain, Rida datang dengan baju yang super kotor bertaburan tepung. Bau amis telur pun sangat menyengat hidung seluruh penghuni rumah sejak Rida masuk.
“Apa-apaan sih Rid?” Tanya Memey melihat kondisi Rida. Yang ditanya malah tertawa gembira.
“Nih habis ngerjain di Tania yang lagi ulang tahun…,” dengan penuh semangat Rida bercerita tentang kejutan yang dia siapkan untuk Tania, temannya di satu jurusan. Yaitu dengan melempar telur dan menghambur-hambur tepung di gerbang kampus sepulang kuliah. Tak lama kemudian Nella pun datang dengan kondisi yang sama. Keduanya bercerita dengan tawa gembira. Hingga tak lama kemudian…
Innal mubadzdziriin, kaanuu ikhwaanas syayaathiinwa kaanas syaithoonu lirobbihi kafuuroo,” Cici muncul di dekat mereka. “Sesungguhnya orang-orang yang suka berbuat mubadzir alias pemborosan adalah saudaranya syetan. Dan syetan itu sangat ingkar kepada Tuhannya…”
Kerumunan yang sedang berbahagia itu pun bubar.
*********
Keesokan harinya, para gadis datang dari kampus dengan mengendap-endap. Sejak kedatangan Cici mereka seperti bukan di rumah sendiri. Andai bukan musim presentasi dan mendekati ujian akhir semester, mereka memilih izin kuliah dan pulang sementara ke rumah masing-masing. Rupanya Cici tidak ada di rumah itu. Kemudian ada BBM dari Lulu kalau dia dan keponakannya sedang berada di plasa terdekat.
“Eh, ternyata suka ke plasa juga ya si Polici. Kirain cuma ke masjid sama perpustakaan doaang,” komentar Rida.
Siang itu mereka bisa sedikit santai tanpa ada yang mengomentari setiap gerak-gerik dan ucapan mereka. Mereka sangat merindukan suasana seperti ini, kemerdekaan yang hilang beberapa hari. Hingga tak lama kemudian…
“Assalamu’alaikum…!” Terdengar ucapan salam dari luar, suara Lulu dan Cici.
“Waalaikum salam…!!” Memey dan Rida menjawab sambil kelabakan. Persis seperti pedagang kaki lima illegal yang mendengar sirine satpol PP. Karena mereka tadi masuk rumah dalam keadaan capek pulang kuliah, sehingga barang-barang bawaan, kertas-kertas fotocopy, jilbab, semua berserakan di ruang tamu dan ruang tengah. Sebelum sempat Rida dan Memey beres-beres, Lulu dan Cici keburu masuk. Dia menahan tawa melihat kepanikan kawan-kawannya. Memey merasa aman karena dia mengira sudah menyelamatkan barang-barangnya. Tapi ternyata, Cici Polici lebih teliti.
Astaghfirullaaah…Kakak…!! Ini kaos kaki siapa di meja makan!!? Dzolim…dzolim…meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya…!” Cici berteriak. “Tuh, mahasiswa! Tahunya demooo aja kalau ada yang kurang beres dari pemerintah. Padahal ngurus diri sendiri aja gak becus!” Tampak sekali emosinya sangat bergejolak.
“Sayang… iya iya itu salah. Tapi gak usah segitunya doong…!” Lulu mengingatkan keponakannya. “Ntar kepalanya pusing lagi, lho. Tadi kan Tante ajak senang-senang ke Mall, eh malah gini lagi.”
Cici lalu diajak Lulu cepat masuk kamar. Semua sahabatnya saling berpandangan, mencari tau kaos kaki siapa yang bertengger dengan manisnya di meja makan.
“Hm… itu  kaos kakiku. Tadi kan pulang kuliah kebelet pipis… trus ya keburu-buru deh lempar kaos kakinya.” Memey buka suara yang disambut dengan “huuu…” panjang dari kawan-kawannya. Ini bukan yang pertama. Memey memang suka lalai dan pelupa. Handphone-nya aja sudah pernah kena giling di mesin cuci gara-gara masih ada di saku baju kotornya yang sedang dicuci. Tapi teriakan Cici tadi sangat meresap di otaknya. Mudah-mudahan saja jadi shock terapi.
Lulu keluar dari kamar. “Maaf ya teman-teman… ya gitu itulah.”
*********
Malam ini Malam Jum’at. Lulu mengundang kawan-kawannya untuk ke kamarnya. Sebab Rida pun sudah mengungsi ke kamar Nella dan Memey. Katanya, Cici mau minta maaf atas insiden tadi siang. Memey merasa nyalinya ciut karena takut ditanya siapa pemilik kaos kaki itu.
“Nggak, kok. Dia sudah gak ngungkit itu. Tadi Cici sudah menyampaikan salam minta maaf karena tadi terlalu kasar. Dia sadar kalo dia tuh perfeksionis, pingin semuanya sempurna. Tapi dia juga cepat menyadari kesalahan-kesalahannya. Sekarang dia ngajak Yasinan bersama di kamar. Mumpung malam Jum’at…,” Lulu menjelaskan.
Para gadis pun berkumpul bersama di kamar Lulu. Mereka mengaji Yasin bersama, ditutup dengan doa.
“Kakak punya doa dan harapan apa malam ini? Ayo kita aminkan bareng-bareng…,” ajak Cici. Suaranya lembut dan jernih, nyaris seperti anak kecil kebanyakan.
“OK. Aku duluan, ya.” Kata Lulu. “Semoga keluarga kami yang sedang umroh selalu dalam lindungan Allah dan segera pulang dengan selamat…!”
“Amiiin…!!!” Semua mengamini. Rida yang paling nyaring.
Sebab kalau keluarga besar Lulu sudah pulang, kan berakhir pula rezim si Cici? Hihi…! batin Rida.
“Semoga besok kelompokku bisa presentasi dengan baik…!” Doa Nella.
“Semoga aku segera dibelikan motor matic oleh ayah…!” Harapan Memey.
“Semmogah akooh segera dapat transferan uang dari mamah…!” Doa Rida. Sekarang giliran Cici yang belum mengungkapkan harapannya. Semua mata memandangnya. Cici sedang menengadahkan wajah sambil memejamkan mata dengan khusyuknya. Dia berdoa dengan sepenuh hati, suaranya bergetar.
“Ya Allah… semoga Yayasan Daarul Qur’an bisa membangun kembali Rumah Tahfidz di Gaza yang kini telah hancur oleh roket Israel…!”
“Buummm!!” Seakan-akan roket Israel menghantam para gadis itu karena kagetnya. Anak sekecil itu, dengan doa seperti itu. Sementara mereka hanya berdoa untuk kepentingan diri sendiri saja.
Ah, betapa egoisnya kami ini. Pikir Nella.
Malam itu suasana kembali cair. Mereka berbicara dengan santai, karena Cici ternyata juga bisa menempatkan diri sebagai tamu dan anak kecil. Rida pun pulang kembali ke kamar itu. Dia asyik mengobrol dengan Lulu dengan bahasa gaul dan alay yang sedang popular.
Sementara Cici sedang membaca buku “I Am Malala” yang tadi siang baru dibelinya di Mall. Buku  yang isinya kisah nyata gadis usia 15 tahun, Malala Yousufzai dari Pakistan yang ditembak Taliban dalam perjalanannya menuju sekolah. Kisah inspiratif tentang sulitnya perjuangan mencari ilmu bagi sebagian orang.

“Kamu tuh kok woles bingids… sih Rid. Kayaknya gak pernah ngerjakan tugas kayak Nella gitu. Santaaaii… terus!” Lulu mengomentari sahabatnya.
“Mending woles, keleus… dari pada stress. Kalo masih kurang seminggu tuh, belum muncul ide untuk bikin tugas. Yang penting buku-buku rujukan sudah tersedia semua. Ntar kalo udah kurang sehari, nah itu baru muncul dah idenya.”
“Kak… pakai teori The Power of Kepepet aja, Kak!” Cici ikut nimbrung.
“Haallooh… apacih itu?” Tanya Rida.
“Itu buku bestseller karya Jaya Setiabudi. Intinya, SEBELUM KETERDESAKAN YANG SESUNGGUHNYA DATANG SEBAIKNYA KITA MEMBUAT KETERDESAKAN DIRI SENDIRI. Untuk masalah Kakak, tanamkan dalam hati dan pikiran Kakak bahwa besok adalah deadline tugas itu. Agar Kakak merasa terdesak, dan bisa muncul ide…,” Cici memberi kuliah.

“Iya juga, ya. Akooh coba ya. Capa tau bisa muncul ide. Makacih, Adek…!”
“Dan, satu lagi Kak. Juga buat Tante Lulu nih,” Cici menutup buku yang sedang dibacanya dan serius menatap dua gadis di depannya.
“Tahukah Tante, Kak Rida, apa penyebab kegagalan Kongres Pemuda yang pertama di tahun 1926?”
Keduanya menggeleng. Mereka bahkan lupa Kongres Pemuda itu yang mana, berapa kali.
“Saat itu kongres Pemuda yang dihadiri Jong Java, Jong Sumatra, dan sebagainya, masih bersifat kedaerahan dan mementingkan golongan. Beda dengan Kongres Pemuda Kedua.”
Ciyuus miapah…?” Rida nyeletuk.
“Dalam Kongres Pemuda kedua, mereka sudah menyadari betul arti persatuan dan kesatuan bangsa. Makanya berhasil merumuskan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu BAHASA….” Cici menjelaskan panjang lebar dan memberi penekanan pada kata Bahasa. Tapi Lulu dan Rida masih memasang tampang lugu, belum mengerti kemana arah pembicaraan Cici. Gadis kecil itupun mulai gemas.
“Intinya Kakak, Tante… Bahasa Indonesia itu hasil perjuangan panjang. Bukan hasil orang iseng. Makanya jangan nodai dengan bahasa-bahasa gaul, alay, yang gak jelas sumber dan tujuannya itu…!” Ujar Cici ketus kemudian dia melanjutkan membaca.
Uuppss…! Batin Rida. Dia berjanji akan berhati-hati lagi agar tidak menggunakan bahasa gaul lagi. Setidaknya di depan Cici, hehe.

*********

Mestinya masih tersisa dua hari Cici tinggal bersama Lulu. Tapi ternyata di rumah Cici kedatangan tamu keluarga besar mamanya yang akan mempersiapkan kedatangan para jemaah umroh. Maka tadi siang secara mendadak dan terburu-buru, Lulu membantu keponakannya berkemas lalu ikut pulang bersama Cici. Mobil mewah yang dulu mengantar kedatangan Cici sekarang sudah siap menjemput. Cici berpamitan pada sahabat-sahabat tantenya. Begitu mobil sudah berlalu….
“Merdeka…!!!” Rida memekik keras. “Huhh… akhirnya aku bisa berbuat apa aja seperti dulu. Lega…,” ujar Rida.
“Eh, kok cara bicaramu beda sekarang? Biasanya ‘aku’ kamu ucapkan ‘akoooh’ kayak orang habis nelan biji kedondong.” Komentar Nella.
“Iya, ya?” Rida juga heran. Biasanya dia akan menimpali dengan “Macacih?
“Gitu lebih baik, Rid. Capek, tau dengerin kamu ngomong bahasa gaul gitu.” Memey ikut komentar.
“Kok kalian selama ini diem aja? Kalo bukan ditegur Cici ya aku mana tau kalo bahasa kayak gitu bikin orang lain gak nyaman,” ujar Rida. Sebenarnya dia ingin berhenti mengucapkan kata-kata alay. Sebab tanpa sengaja dia pernah presentasi di hadapan dosen dan teman-temannya, dan istilah-istilah alay pun terlontar spontan. Itu membuat dosennya kelihatan kurang suka.
“Hm… mau apa ya sekarang?” Memey tampak bingung. “Padahal selama ada Cici kemarin-kemarin rasanya aku ingin copot tuh semua tempelan kertas di dinding. Tapi dipikir-pikir, kok sayang ya? Malah harusnya untuk aku lebih banyak lagi tempelan untuk mengingatkan. Misalnya di mesin cuci diberi tulisan ‘Periksa saku pakaian sebelum dicuci’, gitu kan biar gak kejadian lagi hp-ku rusak,” ujarnya.
“Iya juga. Kalau aku rasanya kemarin-kemarin ingin tidur sepuasnya, bangun sepuasnya seperti sebelum kedatangan Cici yang sebentar-sebentar ngetuk pintu. Ngajak jemaah-lah, ngaji bareng-lah, doa, atau apa. Tapi sekarang ini kok rasanya sayang ya kalau kebanyakan tidur? Apalagi kalau sholat sendirian. Rasanya gak enak banget. Sudah biasa jemaah, sih.” Nella pun berkomentar.
Rida menuju lemari es untuk minum. Biasanya dia membuka kulkas dengan tangan kanan, sehingga tangan kiri yang meraih botol minuman dan langsung meminumnya sambil berdiri dengan pintu kulkas masih terbuka. Kali ini….
“Kakak… duduk. Minumnya pakai tangan kanan. Mau jadi temennya syetan minum pakai tangan kiri?” Rida bersuara kecil menirukan Cici. Dia lalu duduk dan menikmati minumannya setelah menutup pintu kulkas. Nella dan Memey tertawa mendengar ucapan Rida.
“Ternyata tanpa kita sadari kita banyaaak belajar dari Cici,” ucap Nella. Para sahabatnya setuju. “Kayaknya aku bakalan kangen sama anak istimewa itu.”
“Gimana kalo ntar keluarga Lulu datang dari umroh, kita ziarah ke sana?” Usul Memey.
“Oiya, ya. Ide bagus tuh!” Semua setuju.
*********

Beberapa hari kemudian, tiga sahabat itu mengunjungi keluarga Lulu yang datang umroh. Setelah mengunjungi Mama Lulu, mereka minta diantar ke rumah orang tua Cici. Lulu menggojloki sahabat-sahabatnya yang akhirnya merindukan Cici juga.
Di rumah Cici, rupanya masih banyak tamu, yang tempatnya dipisah antara tamu laki-laki dan tamu wanita. Mbak Nilam, kakak ipar Lulu menyambut mereka dengan hangatnya. Dia berterima kasih pada mereka yang telah menerima Cici dengan baik. Setelah tamu-tamu wanita pulang, barulah pembicaraan tentang tanah suci beralih pada sosok Cici.
“Gimana? Kaget gak ketemu Cici?” Tanya Mbak Nilam.
“Hm… iya sih Mbak. Anaknya luar biasa…,” jawab Nella.
“Super cerdas, Mbak.” Memey menambahkan. Rida juga menambahi kata-kata senada.
“Alhamdulillah… Cici itu anak gifted. Anak berbakat luar biasa. Dia juga bisa disebut anak indigo…,” Mbak Nilam menjelaskan.
“Ooh… iya. Saya juga sempat mengira begitu. Cuma kirain anak indigo cuma ada di kota-kota besar saja,” komentar Rida.
“Apa itu berarti Cici bisa melihat hal-hal gaib gitu, Mbak?” Tanya Memey.
“Tidak selalu begitu. Tapi saya sudah persiapkan mentalnya jika suatu saat dia bisa melihat hal-hal seperti itu. Saat ini dia baru pada taraf bisa merasakan dan menebak kepribadian orang yang ditemuinya,” jelas Mbak Nilam. “Yang saya utamakan sekarang adalah pengendalian emosinya. Karena dia tidak bisa tinggal diam melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Akibatnya dia suka marah, emosi, dan berakibat buruk ke kesehatannya. Apalagi anak-anak indigo jarang sekali tidur.”
“Oooh…,” para gadis itu ternganga. Mereka pasti sudah dinilai habis-habisan oleh Cici. Mereka jadi merasa malu, karena pasti Cici sudah bercerita banyak tentang kekacauan di rumah mereka pada mamanya. Tapi Mbak Nilam mencairkan suasana dengan mengobrol hal yang lain, masih sehubungan dengan anak indigo. Juga bercerita bagaimana dia dulu pertama mendeteksi keistimewaan Cici.
“Trus sekarang mana Cici?” Memey mencari-cari.
“Tuh, nemui tamu-tamu papanya,” Lulu menunjuk pada sisi teras rumah yang lain tempat para tamu pria.
“Teman-teman akrab papanya ya para dosen, wartawan, aktivis… bersama merekalah Cici betah ngobrol,” jelas Mbak Nilam. “Bisa jadi kalian adalah teman termudanya saat ini.”
Kemudian Lulu memanggil keponakannya untuk menemui sahabat-sahabatnya. Wajah Cici tampak jauh lebih ceria. Mereka pun mengobrol hal-hal yang ringan-ringan saja. Seputar oleh-oleh apa yang dibawakan orang tuanya untuk Cici, bagaimana kesehatannya, dan sebagainya.
Waktu berpamitan pun tiba. Sebelum pulang, Nella meminta Cici untuk memberi nasehat penting buat mereka. Awalnya Cici menolak, tapi mereka terus mendesak.
“Baiklah, Kakak-kakak. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang sangat berbahaya, bahkan bisa menjadi sumber kerusakan di muka bumi ini.” Ujarnya. Para pendengarnya penasaran.
“Yaitu, kaos kaki di meja makan!” Ucap Cici. Memey langsung pucat.
Perasaan kaos kakiku gak kotor-kotor amat, deh. Masa segitunya jadi sumber kerusakan di bumi??? Pikir Memey dengan sedihnya.
“Maksudnya adalah, penempatan sesuatu yang bukan pada semestinya. Jika diperluas lagi, bisa diartikan menempatkan orang bodoh pada posisi yang bukan keahliannya. Menempatkan dana tertentu pada proyek yang salah, menempatkan orang yang tidak amanah pada jabatan penting, dan masih banyak lagi. Saya yakin Kakak-kakak kan mahasiswi yang cerdas!” Cici mengakhiri kuliah sorenya.
Para gadis itu mendengarkan dengan seksama. Baiklah, mereka berjanji tidak ada lagi kaos kaki di meja makan.☺


info anak gifted dan indigo, kunjungi:
http://www.asianfanfics.com/story/view/357966/6/babk-kel-5-11-babk



[i] Kamu adalah apa yang kamu pikirkan
[ii] Hemat energy, hemat uang, selamatkan bumi