Minggu, 04 Januari 2026

Cerpen Kearifan Lokal Madura

 Ter-ater 



Hujan turun tipis sejak subuh, membasahi halaman rumah-rumah tanah liat di kampung kecil pesisir Madura itu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma ketupat yang mulai direbus dari dapur-dapur warga. Bulan Sya’ban selalu menghadirkan suasana yang berbeda: lebih hening, lebih hangat, sekaligus lebih sibuk. Di kampung ini, akhir Sya’ban, menjelang Ramadan, berarti satu hal yang tak pernah dilupakan—ter-ater.

Aisyah berdiri di depan dapur, menatap ibunya yang sedang membungkus nasi dengan daun pisang. Di sampingnya, mangkuk besar berisi opor ayam mengepul pelan. Tangannya cekatan, seolah telah menghafal gerak yang sama sejak puluhan tahun lalu.

“Sudah lengkap?” tanya Aisyah pelan.

Ibunya mengangguk. “Tinggal antarkan ke rumah Bu Ramlah dan Pak Karim. Jangan lupa, yang ke rumah Pak Karim ditambah telur rebus. Kamu tahu sendiri, cucunya paling suka.”

Aisyah tersenyum kecil. Ia mengambil dua rantang alumunium yang telah disiapkan. Ter-ater bukan sekadar mengantar makanan. Ia adalah penanda bahwa hubungan antartetangga masih hidup, bahwa silaturahmi dirawat dengan tangan dan langkah, bukan hanya ucapan.

Namun, pagi itu ada sesuatu yang terasa berbeda di hati Aisyah. Ini mungkin adalah ter-ater terakhirnya di kampung.

Sejak seminggu lalu, surat keputusan itu resmi ia terima: ia diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebuah kesempatan besar, kata orang-orang. Kesempatan yang tidak semua anak kampung bisa dapatkan. Tapi bersama kesempatan itu, ada jarak yang harus diterima, ada kebiasaan yang perlahan harus dilepas.

Aisyah melangkah menyusuri jalan setapak. Hujan telah berhenti, menyisakan genangan kecil yang memantulkan langit kelabu. Rumah Bu Ramlah adalah tujuan pertama. Perempuan sepuh itu menyambutnya dengan senyum lebar.

“Masyaallah, ada yang ter-ater ,” ucap Bu Ramlah sambil menerima rantang. “Ibumu sehat?”

“Alhamdulillah, Bu.”

Bu Ramlah menatap Aisyah agak lama, seolah ingin mengatakan sesuatu. “Kudengar kamu akan pergi jauh.”

Aisyah terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Insyaallah, Bu. Setelah Ramadan.”

Bu Ramlah menghela napas pelan. “Pergilah kalau itu baik. Tapi jangan lupa pulang. Kampung ini selalu menunggu.”

Kata-kata itu menempel di dada Aisyah, lebih lama dari yang ia duga.

Rumah Pak Karim berada di ujung kampung. Lelaki tua itu sedang duduk di beranda, memintal jaring nelayan yang sudah jarang ia pakai. Ketika Aisyah datang, ia tersenyum sambil bercanda seperti biasa.

“Wah, ter-ater datang bersama calon orang luar negeri,” katanya sambil tertawa kecil.

Aisyah ikut tertawa, meski hatinya tak sepenuhnya ringan. “Pak Karim selalu saja.”

“Orang pergi boleh,” lanjut Pak Karim, nada suaranya tiba-tiba lebih serius, “asal tahu jalan pulang.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Aisyah terasa seperti pesan yang harus disimpan baik-baik.

Siang harinya, kampung semakin ramai. Anak-anak berlarian membawa plastik berisi kue, ibu-ibu saling menyapa dari satu rumah ke rumah lain. Ter-ater menjelma jembatan: antara yang kaya dan yang sederhana, antara yang lama dan yang baru.

Di rumah, Aisyah duduk di ambang pintu, memandangi halaman. Ibunya datang membawa dua cangkir teh hangat.

“Kamu kelihatan melamun,” kata ibunya.

Aisyah menerima cangkir itu. “Ibu… apakah salah kalau aku pergi merantau?”

Ibunya terdiam sejenak, lalu duduk di samping Aisyah. “Tidak ada yang salah dengan pergi. Yang salah adalah lupa.”

“Lupa apa?”

“Lupa asalmu, lupa siapa yang pernah mendoakanmu diam-diam.”

Aisyah menunduk. Ia tahu ibunya tidak sedang menahannya. Justru sebaliknya, ibunya sedang membekalinya dengan sesuatu yang lebih penting daripada koper dan ijazah.

Malam menjelang. Suara tadarus dari surau terdengar bersahut-sahutan. Aisyah membantu ibunya membereskan dapur. Rantang-rantang kosong telah kembali, sebagian disisipi kue balasan, sebagian lagi doa yang tak terucap.

Sebelum tidur, Aisyah menulis sesuatu di buku kecilnya:

Ter-ater bukan tentang makanan. Ia tentang ingatan. Tentang saling hadir, meski hanya sebentar.

Hari-hari berlalu cepat. Ramadan datang, lalu mendekati akhirnya. Malam sebelum keberangkatannya ke Malaysia, Aisyah berjalan sendirian ke surau. Ia duduk di serambi, memandangi langit yang cerah.

Ia teringat wajah-wajah yang ia temui saat ter-ater: senyum Bu Ramlah, candaan Pak Karim, nasihat ibunya. Semua itu seperti benang-benang halus yang mengikatnya pada kampung ini.

Dalam hati, Aisyah berjanji: sejauh apa pun ia melangkah, ia akan tetap kembali. Bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan sikap—dengan kesediaan berbagi, menyapa, dan mengingat.

Beberapa tahun kemudian, kampung itu tetap sama. Jalan setapaknya masih basah saat hujan, suraunya masih ramai di bulan Sya’ban. Dan setiap kali ter-ater diantarkan, nama Aisyah selalu disebut.

“Anaknya Bu Siti sekarang sudah jauh,” kata orang-orang, “tapi hatinya masih di sini.”

Di negeri jiran, setiap kali Aisyah membagi makanan kepada tetangganya, ia tahu: ter-ater itu belum pernah benar-benar berakhir.



Mengupload: 4075952 dari 4075952 byte diupload.

Sabtu, 02 Desember 2023

Cerbung Palestina 2

 

Pelajaran Di Atas Lautan

 

Beberapa jam sebelum kapal berlabuh….

“Daratan… daratan…!”  Teriak seorang anak lelaki dengan riangnya, berlarian di sepanjang dek kapal dan  masuk ke dalam kabin yang berisi keluarga besarnya. Lalu dia berteriak memanggil kakak lelakinya. “Ehud, lihat… itu daratan. Kita hampir sampai….”

“Jangan berteriak, Yitzhak! Nanti nenek bisa terkejut mendengar suaramu,” nasihat kakaknya. Namun, perempuan tua bermata tajam itu rupanya terlanjur terkejut dan membuka matanya. Kondisi perempuan tua itu begitu payah, karena kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing begitu lama di lautan. Beberapa Negara menolak kedatangan mereka. Dengan pelan, nenek itu duduk, lalu memanggil seluruh keluarganya untuk merapat di sekelilingnya.

“Apa yang akan Savta* sampaikan?” Tanya Yitzhak tidak sabar. Dia ingin segera keluar lagi melihat proses kapal berlabuh.

“Sebentar lagi kita akan sampai di tanah yang dijanjikan. Eretz Israel. Di sana kita akan mendirikan sebuah negara baru, khusus kita saja. Maka aku ingatkan kalian, jaga persaudaraan sesama kita, manusia pilihan Tuhan.”

“Tapi Savta, di daratan itu nampaknya sudah banyak gedung dan bangunan. Berarti di sana sudah ada yang menempati sebelum kita,” ujar Yitzhak. Bocah tujuh tahun itu memang cerdas dan suka bertanya.

“Itu nanti akan menjadi milik kita. Kalian yang harus bisa merebutnya dari penduduk sana. Mereka bukan manusia pilihan, bahkan bukan manusia!” Perempuan itu berbicara dengan berapi-api. Suara paraunya bersaing dengan deru mesin kapal uap. “Orang-orang itu layak dibunuh. Lakukan cara apapun untuk mendapatkan yang kita inginkan, demi Negara Tsiyonut impian…!” dengan semangat berkobar, perempuan enam puluh tahun itu berorasi di tengah keluarganya.

“Kenapa kita tidak bergabung saja dengan orang-orang itu?” Ehud mencoba bertanya seperti adiknya. Dia dua tahun lebih tua dari Yitzhak.

“Jika kalian menempati di sebuah rumah, apakah kalian mau tinggal bersama tikus dan kecoa?” Tanya si nenek tua kepada anak cucunya.

“Tidaak…!’ Jawab mereka serempak. Sangat kebetulan ada seekor kecoa melintas di dekat kaki si nenek tua. Segera dia ambil sebelah sandalnya, lalu menghajar kecoa itu dengan sekali pukul. “Beginilah yang harus kita lakukan pada mereka.”

Keluarga besar itu pun bersiap-siap untuk turun dari kapal dengan beberapa kopor kulit dan beberapa kantung pakaian. Hanya barang-barang itu yang bisa diselamatkan akibat pengusiran yang mereka alami di Eropa.

Sebelum Nazi menguasai Jerman, kehidupan keluarga Shimon dan Jemina cukup berada. Orang tua Yitzhak dan Ehud itu memiliki sebuah toko kebutuhan sehari-hari yang cukup besar. Kedua anak lelaki itupun sebelumnya bisa bersekolah dengan normal. Hingga tiba hari-hari buruk bagi komunitas Yahudi di Jerman, mereka diburu dan disiksa, sehingga memutuskan untuk ikut rencana relokasi ke luar Eropa. Mereka tidak tahu secara pasti akan kemana, tergantung negara apa yang mau menerima mereka.

Gambar ketika Yahudi diusir di Polandia. Sumber gambar: tirto.id


Tak lupa  Shimon menjemput Keset, ibunya, yang berada di permukiman kota lain. Keset tidak mau pergi kecuali Shimon mau mengajak adiknya yang bernama Beryl, beserta keluarganya. Beryl mempunyai istri bernama Mayim, dan seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Shira. Mereka berdelapan kemudian menyebut diri keluarga besar Chazan, untuk memudahkan pendataan di tempat baru nanti.

Dengan tidak sabar, Yitzhak keluar dari kabin dan melihat proses kapal merapat. Dari kejauhan dia melihat begitu banyak orang-orang di pelabuhan menyambut kedatangan mereka. Lalu dia berbisik pada Ehud. “Apakah kau mempercayai yang dikatakan Savta? Benarkah kita akan membunuh orang-orang itu nantinya?” Tanya bocah itu.

“Hm, mungkin akan sulit pada awalnya, tetapi kita akan terbiasa,” jawab kakaknya dengan ringan. Tiba-tiba Yitzhak merasa pusing dan mual. Jiwa murninya yang masih suci berperang dengan doktrin keluarganya.

“Dulu aku juga merasakan yang kau rasakan sekarang. Percayalah, nanti kau akan terbiasa. Ingat cita-cita kita untuk mempunyai Negara Tsiyonut,” Ehud menepuk pundak adiknya. Mereka kemudian kembali sibuk bergabung dengan keluarga besar Chazan lainnya, bersiap untuk turun dari kapal.

Begitu keluarga Chazan turun satu persatu dari kapal, seorang Arab menyambut mereka dengan sangat hangat.

“Marhaba… marhaba…!” ujar laki-laki tadi sambil membantu mengangkat koper. Dialah Qasim, sahabat Taher.


*Savta: Nenek dalam Bahasa Ibrani

Minggu, 26 November 2023

Cerbung Palestina 1

Source: https://www.expedia.com/pictures/middle-east/israel/haifa-port.d553248621558034722


1. Senja di Pelabuhan Haifa

“Apakah kau mau ikut ke pelabuhan?” Tanya Taher.

“Memangnya ada apa di sana?”

“Hm, kau terlalu banyak berdiam di rumah, Sayang. Tidakkah kau dengar berita bahwa hari ini ada kapal yang akan merapat?”

“Namanya juga pelabuhan, ya tentu saja banyak kapal merapat,” komentar Widad sambil melipat setumpuk pakaian di depannya. Suaminya pun tertawa, menyadari betapa dia tidak detil menjelaskan sesuatu.

“Kapal yang akan berlabuh ini berisi para pengungsi Yahudi dari Eropa. Ratusan orang berada di atas kapal itu, konon katanya mereka ditolak untuk berlabuh di manapun.”

“Jadi, mereka mau berlabuh di Haifa? Pilihan yang cerdas! Mungkin mereka tahu jika penduduk sini sangat pemurah dan melayani tamu dengan baik. Semoga saja mereka menjadi tamu yang tau diri, setelah diusir dari sana sini!” Ucap Widad ketus.

“Sayang, kamu kenapa kok kasar sekali? Ingatlah, namamu Widad, yang artinya cinta kasih. Janganlah kasar begitu, apalagi kau sedang mengandung anak kita.”

“Ya Allah, lindungilah dia, bahkan dari ucapan dan perbuatan burukku…!” Ucap Widad sambil mengelus perut buncitnya.

“Ayolah, ikut ke pelabuhan! Barangkali pikiranmu perlu penyegaran…,” Taher setengah memaksa. Widad pun tak bisa menolak lagi, dan dia rasa ini bukan ide yang buruk.

Sepasang suami istri itu berjalan santai ke pelabuhan, menikmati semilir angin di bulan Mei. Cuaca begitu cerah, menyisakan keindahan musim semi sekaligus penyambutan kepada musim panas. Haifa adalah kota pelabuhan yang tidak kehilangan keindahannya meski semakin hari kian ramai. Pesona laut Mediterania yang membentang luas di sebelah barat, dengan warna birunya yang begitu segar. Memandang arah lain, terbentang hijau kecoklatan gunung Carmel di sebelah barat daya hingga arah selatan, membuat kota Haifa semakin cantik seperti namanya.

source: https://photodune.net

Mereka berjalan melewati tanah lapang yang biasanya dipakai anak-anak remaja bermain bola. Betapa kagetnya ternyata di sana telah didirikan puluhan tenda. Penduduk setempat sibuk mempersiapkan alas, peralatan tidur, dan banyak yang berbondong-bondong mengantar makanan. Suasana sangat sibuk seperti menyambut tamu agung.

Begitu tiba di pelabuhan, sudah banyak pula penduduk yang berjejal di sana. Tampak mereka membawa pakaian, makanan, minuman, dan buah-buahan untuk menyambut para pengungsi. Taher menyesal tidak membawa apapun, tetapi Widad tidak. Dia memang sengaja pergi ke pelabuhan hanya untuk melihat kapal berlabuh, tidak lebih.

Dari kejauhan, kapal St Louis mulai merapat pelan. Di atas kapal, tampak para penumpangnya berjubel sambil melambaikan sebuah spanduk besar bertuliskan:




THE GERMANS DESTROYED OUR FAMILIES

AND OUR HOMES -  DON’T YOU DESTROY OUR HOPES

 

“Oh, lihatlah tulisan itu, Sayang!” Seru Taher. Istrinya hanya tersenyum sinis. Memang beberapa hari ini Taher sering bercerita bagaimana nasib para Yahudi di Eropa, nasib mereka yang terlunta-lunta, tetapi tidak sedikit pun yang meluluhkan hati Widad. Padahal Taher sangat mengenal tabiat istrinya yang selalu penuh kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan Allah. Ah, barangkali hanya bawaan jabang bayi saja, piker Taher.

Begitu kapal berlabuh sempurna dan jangkar telah diturunkan, para penumpang pun berhamburan keluar kapal. Penduduk Haifa pun menghampiri mereka, menyambut bagai saudara yang lama terpisah. Dari kejauhan Taher melihat sahabatnya, Qasim, sedang sibuk mengangkat koper milik para pengungsi. Begitu mereka berjalan mendekat, Taher pun menyapa dan bertanya apa yang sedang dilakukan sahabatnya.

“Aku akan menolong satu keluarga pengungsi ini di rumahku. Semoga jadi tambahan kebaikan bagiku dan keluargaku suatu hari nanti,” jawab Qasim dengan tulus. Di belakangnya ada satu keluarga terdiri dari seorang laki-laki yang tampaknya kepala keluarga tersebut. Di belakangnya ada seorang wanita tua yang lebih tepat menjadi ibu lelaki Yahudi tadi, seorang wanita muda yang tampaknya adalah sang istri, dan dua orang anak lelaki sekitar tujuh dan sembilan tahun. Mereka semua terlihat kelelahan dan dengan pasrah mengikuti langkah Qasim.

“Apakah kau bersedia melakukan hal yang sama, Sayang?”

“Apa? Menampung mereka? Oh, tidak akan pernah!” Sahut Widad ketus. Taher hanya menggeleng sambil menarik napas panjang menghadapi istrinya yang keras hati.

“Lihatlah para pengungsi yang lemah itu. Badan mereka kurus dan dekil, tampak sekali penderitaan yang berkepanjangan,” ujar Taher.

“Sudahkah kau tatap mata mereka, Taher? Tidakkah kau lihat pandangan licik mereka? Mungkin kau bilang ini konyol, tetapi aku punya firasat buruk. Ayo kita pulang saja,” Widad tampak kesal dan menggandeng suaminya pulang.

Karena terburu-buru, tanpa sengaja Widad menyenggol anak lelaki dari keluarga yang dibawa Qasim. Reaksinya sungguh di luar dugaan. Anak itu marah-marah sambil menangis dan menunjuk-nunjuk ke arah Widad. Keluarga Yahudi itu semuanya melotot dan mencaci dengan bahasa asing yang tidak dipahami Widad ataupun Taher.

“Tamu tak tahu diri…!” Balas Widad, kemudian segera Taher menggandengnya. Melihat kejadian itu, Taher mulai mempercayai firasat istrinya.

Lalu, bagaimana nasib Qasim yang terlanjur mengambil keluarga Yahudi itu untuk diselamatkan? Siapakah keluarga Yahudi yang diselamatkan Qasim itu?