Ter-ater
Hujan turun tipis sejak subuh, membasahi halaman rumah-rumah tanah liat di kampung kecil pesisir Madura itu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma ketupat yang mulai direbus dari dapur-dapur warga. Bulan Sya’ban selalu menghadirkan suasana yang berbeda: lebih hening, lebih hangat, sekaligus lebih sibuk. Di kampung ini, akhir Sya’ban, menjelang Ramadan, berarti satu hal yang tak pernah dilupakan—ter-ater.
Aisyah berdiri di depan dapur, menatap ibunya yang sedang membungkus nasi dengan daun pisang. Di sampingnya, mangkuk besar berisi opor ayam mengepul pelan. Tangannya cekatan, seolah telah menghafal gerak yang sama sejak puluhan tahun lalu.
“Sudah lengkap?” tanya Aisyah pelan.
Ibunya mengangguk. “Tinggal antarkan ke rumah Bu Ramlah dan Pak Karim. Jangan lupa, yang ke rumah Pak Karim ditambah telur rebus. Kamu tahu sendiri, cucunya paling suka.”
Aisyah tersenyum kecil. Ia mengambil dua rantang alumunium yang telah disiapkan. Ter-ater bukan sekadar mengantar makanan. Ia adalah penanda bahwa hubungan antartetangga masih hidup, bahwa silaturahmi dirawat dengan tangan dan langkah, bukan hanya ucapan.
Namun, pagi itu ada sesuatu yang terasa berbeda di hati Aisyah. Ini mungkin adalah ter-ater terakhirnya di kampung.
Sejak seminggu lalu, surat keputusan itu resmi ia terima: ia diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebuah kesempatan besar, kata orang-orang. Kesempatan yang tidak semua anak kampung bisa dapatkan. Tapi bersama kesempatan itu, ada jarak yang harus diterima, ada kebiasaan yang perlahan harus dilepas.
Aisyah melangkah menyusuri jalan setapak. Hujan telah berhenti, menyisakan genangan kecil yang memantulkan langit kelabu. Rumah Bu Ramlah adalah tujuan pertama. Perempuan sepuh itu menyambutnya dengan senyum lebar.
“Masyaallah, ada yang ter-ater ,” ucap Bu Ramlah sambil menerima rantang. “Ibumu sehat?”
“Alhamdulillah, Bu.”
Bu Ramlah menatap Aisyah agak lama, seolah ingin mengatakan sesuatu. “Kudengar kamu akan pergi jauh.”
Aisyah terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Insyaallah, Bu. Setelah Ramadan.”
Bu Ramlah menghela napas pelan. “Pergilah kalau itu baik. Tapi jangan lupa pulang. Kampung ini selalu menunggu.”
Kata-kata itu menempel di dada Aisyah, lebih lama dari yang ia duga.
Rumah Pak Karim berada di ujung kampung. Lelaki tua itu sedang duduk di beranda, memintal jaring nelayan yang sudah jarang ia pakai. Ketika Aisyah datang, ia tersenyum sambil bercanda seperti biasa.
“Wah, ter-ater datang bersama calon orang luar negeri,” katanya sambil tertawa kecil.
Aisyah ikut tertawa, meski hatinya tak sepenuhnya ringan. “Pak Karim selalu saja.”
“Orang pergi boleh,” lanjut Pak Karim, nada suaranya tiba-tiba lebih serius, “asal tahu jalan pulang.”
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Aisyah terasa seperti pesan yang harus disimpan baik-baik.
Siang harinya, kampung semakin ramai. Anak-anak berlarian membawa plastik berisi kue, ibu-ibu saling menyapa dari satu rumah ke rumah lain. Ter-ater menjelma jembatan: antara yang kaya dan yang sederhana, antara yang lama dan yang baru.
Di rumah, Aisyah duduk di ambang pintu, memandangi halaman. Ibunya datang membawa dua cangkir teh hangat.
“Kamu kelihatan melamun,” kata ibunya.
Aisyah menerima cangkir itu. “Ibu… apakah salah kalau aku pergi merantau?”
Ibunya terdiam sejenak, lalu duduk di samping Aisyah. “Tidak ada yang salah dengan pergi. Yang salah adalah lupa.”
“Lupa apa?”
“Lupa asalmu, lupa siapa yang pernah mendoakanmu diam-diam.”
Aisyah menunduk. Ia tahu ibunya tidak sedang menahannya. Justru sebaliknya, ibunya sedang membekalinya dengan sesuatu yang lebih penting daripada koper dan ijazah.
Malam menjelang. Suara tadarus dari surau terdengar bersahut-sahutan. Aisyah membantu ibunya membereskan dapur. Rantang-rantang kosong telah kembali, sebagian disisipi kue balasan, sebagian lagi doa yang tak terucap.
Sebelum tidur, Aisyah menulis sesuatu di buku kecilnya:
Ter-ater bukan tentang makanan. Ia tentang ingatan. Tentang saling hadir, meski hanya sebentar.
Hari-hari berlalu cepat. Ramadan datang, lalu mendekati akhirnya. Malam sebelum keberangkatannya ke Malaysia, Aisyah berjalan sendirian ke surau. Ia duduk di serambi, memandangi langit yang cerah.
Ia teringat wajah-wajah yang ia temui saat ter-ater: senyum Bu Ramlah, candaan Pak Karim, nasihat ibunya. Semua itu seperti benang-benang halus yang mengikatnya pada kampung ini.
Dalam hati, Aisyah berjanji: sejauh apa pun ia melangkah, ia akan tetap kembali. Bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan sikap—dengan kesediaan berbagi, menyapa, dan mengingat.
Beberapa tahun kemudian, kampung itu tetap sama. Jalan setapaknya masih basah saat hujan, suraunya masih ramai di bulan Sya’ban. Dan setiap kali ter-ater diantarkan, nama Aisyah selalu disebut.
“Anaknya Bu Siti sekarang sudah jauh,” kata orang-orang, “tapi hatinya masih di sini.”
Di negeri jiran, setiap kali Aisyah membagi makanan kepada tetangganya, ia tahu: ter-ater itu belum pernah benar-benar berakhir.




