Cerpen Kontemplatif

 

Velland, Sang Bintang Panggung

Fera Andriani Djakfar

 

Namanya berkilau di layar-layar gawai, di poster-poster digital, dan di bibir para penggemar. Suaranya terdengar di mana-mana, merdu, powerful, sejenak mengalihkan telinga dari hiruk pikuk berita buruknya dunia. Dia digadang-gadang sebagai legenda baru dalam dunia dangdut. Velland namanya. Meski hanya runner-up dalam kompetisi dangdut paling bergengsi di negeri ini, namanya justru melesat melampaui juara pertama. Orang-orang menyukainya bukan semata karena suara emasnya, melainkan karena keseluruhan dirinya: multi talenta, rendah hati, sopan dalam tutur, dan dikenal rajin beribadah. Sesuatu yang nyaris langka di dunia entertainment yang identik dengan gemerlap duniawi. Dalam setiap wawancara, Velland selalu menjawab dengan sopan, tidak malu menyebut latar belakang keluarga, dan selalu mengakhiri kalimatnya dengan kalimat “Doakan, ya!.”

Hari itu, ia pulang ke Madura.

Mobil yang membawanya baru saja menuruni Jembatan Suramadu ketika kerumunan mulai tampak. Bendera-bendera kecil bergambar wajahnya berkibar, spanduk-spanduk bertuliskan Selamat Datang Velland, Kebanggaan Madura terbentang di sepanjang jalan. Klakson bersahut-sahutan, motor-motor beriringan mengikuti laju mobil yang semakin melambat. Kamera-kamera ponsel menyorot ke arahnya. Bahkan ketika melewati sebuah Puskesmas, para pasien pun ikut memanggil namanya dan melambai dengan tangan-tangan yang masih memakai selang infus.

“Vellaaand… Vellaaand…!”

Sepanjang jalanan utama Madura, nama itu dipanggil seperti zikir yang tak putus. Tak terhitung jumlah penonton yang menyiarkan secara langsung, dari lokasi ke lokasi,  melalui berbagai media sosial, khususnya tiktok, keberadaannya disorot kamera-kamera amatir penggemarnya. Velland tersenyum dari balik kaca mobil, sesekali berdiri tegak di tengah mobil kap terbuka sambil melambaikan tangannya tanda memberi salam. Dadanya penuh—antara haru, syukur, dan lelah yang mulai menekan pelan-pelan.

Sejak kemarin  ia belum benar-benar beristirahat. Jadwal padat, wawancara, latihan, dan perjalanan panjang membuat tubuhnya seperti mesin yang dipaksa terus menyala. Tadi malam di tengah lelahnya, dia menghadiri undangan Ibu gubernur, dan menyempatkan untuk duet dengan orang nomor satu di Jawa Timur itu. Dia Lelah, akan tetapi perjalanan pulang ini harus dia tempuh, menuruti kehendak rindu. Ini tanah kelahirannya. Ini rumah.

Di Pamekasan, panggung megah telah berdiri. Lampu-lampu bersinar terang, seterang popularitasnya saat ini. Sound system terbaik menggelegar, berpacu dengan degub bangga warga Madura pada putra daerah mereka. Anak-anak memanjat pagar, ibu-ibu mengibaskan tangan, para bapak berdiri dengan dada dibusungkan—bangga. Rombongan datang tiada henti, dari seluruh penjuru Madura. Tidak hanya kawula muda, tetapi juga kakek nenek usia senja. Mereka ikut bangga terhadap putra daerah yang telah mengharumkan nama Madura.

Salah satu sosok yang paling bangga adalah Aba Syukri, kakeknya sendiri. Dulu lelaki tua itu pernah mengkhawatirkan kegiatan musikal Velland, ketakutan yang wajar untuk seorang kakek religious yang ditokohkan oleh Masyarakat. Namun, sekarang terbukti bahwa Velland tetap bisa menjaga adabnya.

Velland naik ke panggung dengan senyum yang tetap terjaga. Ia bersholawat, menyanyi, menyapa, dan bercanda ringan. Setiap lagu disambut teriakan histeris. Tapi di sela tepuk tangan, pandangannya sesekali berkunang. Nafasnya terasa lebih pendek.

Manajernya yang peka terhadap kondisi sang Bintang, mendekat dengan wajah khawatir. “Kita istirahat sebentar. Staminamu drop.”

Untuk mengisi jeda selama Velland beristirahat, kelompok Banjari “Syubbanul Yaum” tampil untuk melantunkan lagu-lagu shalawat, diiringi tabuhan gendang, rebana, darbuka, keprak, dan tam-tam. Bersama kelompok inilah Velland sejak kecil memulai kehidupan berkeseniannya, dari panggung ke panggung sebagai vokalis shalawat. Selanjutnya dengan suara emas yang dia miliki, Velland sering diundang ke acara-acara perhelatan, juga menjadi wedding singer di kotanya. Dari even demi even, dia juga secara otodidak belajar memainkan bermacam alat musik.

Di balik panggung, kursi lipat disiapkan. Seorang perawat datang membawa peralatan infus vitamin. Pria itu mengenakan masker medis, topi kecil, dan sarung tangan. Gerakannya tenang, profesional.

“Maaf ya, Mas Velland,” katanya lembut kebapakan sambil memegang pergelangan tangan  Velland. “Ini hanya vitamin, biar kuat sampai acara selesai.”

Velland mengangguk. “Terima kasih.”

Jarum menembus kulit, cairan bening menetes perlahan. Di tengah hiruk-pikuk suara penonton, perawat itu bekerja dalam keheningan. Lalu, dengan suara hampir seperti desahan angin, ia berbisik.

“Mas Velland… jangan lupa tetap rendah hati.”

Velland menoleh. Tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata yang tenang namun dalam.

“Jangan lupa juga, tetap hati-hati dengan orang-orang di sekitar,” lanjut suara itu. “Ketenaran sering kali tidak bertahan lama karena ada saja yang ingin merebutnya dengan segala cara. Di era ini, bintang datang dan pergi.”

Velland terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.

“Mas masih muda,” sambungnya. “Teruslah kuliah. Kejar cita-cita yang lebih panjang. Kalau suatu hari ada bintang baru yang lebih terang, Mas tetap punya pegangan.”

Velland menelan ludah. Ia ingin bertanya, tapi perawat itu sudah berdiri, merapikan alat. Sebelum pergi, ia berhenti sejenak. Tangannya terangkat membuka masker perlahan.

Wajah di baliknya membuat Velland tercekat.

“Mas Taufan Kharis? Juara Festival Dangdut Nasional?”

Perawat itu tersenyum kecil. “Iya.”

Nama itu tidak asing. Taufan Kharis—mantan bintang dangdut jebolan ajang pencari bakat bertahun-tahun lalu. Pernah viral, pernah dielu-elukan, bahkan sempat dijuluki calon legenda. Namun kemudian namanya menghilang, tersapu kabar perseteruan dengan manajer, kontrak yang putus, dan panggung yang menjauh.

“Aku sekarang jadi perawat,” kata Taufan tenang, seolah membaca pertanyaan di mata Velland. “Hidup kadang membawa kita ke jalan yang tidak kita rencanakan. Tapi selalu ada jalan yang bisa dijalani dengan terhormat.”

Velland menunduk. “Terima kasih atas nasihatnya.”

Taufan mengangguk. “Bernyanyilah dengan hati, bukan dengan silau lampu. Itu saja.”

Ia melangkah pergi, menyatu dengan keramaian belakang panggung, meninggalkan Velland dengan cairan vitamin yang masih menetes dan pikiran yang lebih jernih.

Ketika Velland kembali ke panggung, suaranya terasa berbeda. Lebih tenang, lebih jujur. Ia menyanyikan lagu tentang pulang, tentang ibu, tentang doa. Penonton terdiam, lalu menangis.

Malam itu, sorak sorai kembali menggema. Namun di dalam diri Velland, cahaya ketenaran tak lagi menyilaukan. Ia tahu, bintang sejati bukan yang paling terang, melainkan yang mampu bertahan di langit—tanpa lupa daratan.

Dan di sudut panggung yang gelap, Taufan menonton sebentar, lalu pergi. Dengan langkah ringan, seolah beban masa lalu telah ia titipkan pada bintang yang baru.

 

Komentar

  1. Setiap orang memilih jalanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita melalui jalan yg diridoi oleh Allah

      Hapus
  2. Kadang di atas, kadang di bawah, semua ada hikmah di setiap masanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, di manapun posisinya tetap disyukuri

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Pidato Untuk Anak-anak (Tema SYUKUR NIKMAT)

Cerpen Ter-ater