Cerpen Ter-ater

 Ter-ater 



Hujan turun tipis sejak subuh, membasahi halaman permukiman padat penduduk di kampung kecil pesisir Madura itu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma opor ayam yang mengepul dari dapur-dapur warga. Bulan Sya’ban selalu menghadirkan suasana yang berbeda: lebih hening, lebih hangat, sekaligus lebih sibuk. Di kampung ini, akhir Sya’ban, menjelang Ramadan, berarti satu hal yang tak pernah dilupakan—ter-ater.

Aisyah berdiri di depan dapur, menatap ibunya yang sedang membungkus nasi dengan daun pisang. Di sampingnya, mangkuk besar berisi opor ayam mengepul pelan. Tangannya cekatan, seolah telah menghafal gerak yang sama sejak puluhan tahun lalu.

“Sudah lengkap?” tanya Aisyah pelan.

Ibunya mengangguk. “Tinggal antarkan ke rumah Bu Ramlah dan Pak Karim. Jangan lupa, yang ke rumah Pak Karim ditambah telur rebus. Kamu tahu sendiri, cucunya paling suka.”

Pak Karim... Hm, sosok itu. Sesepuh kampung yang sejak dulu selalu bersemangat menjodoh-jodohkannya dengan Armu, ponakannya. Awalnya Aisyah merasa malu dan risih. namun, setelah beranjak remaja, benih-benih romansa itu tumbuh juga. Ditambah lagi melihat kecerdasan dan adab Armu yang sudah terkenal di masyarakatnya. Mereka berdua digadang-gadang menjadi "couple goal", pasangan impian kampung nelayan itu. Berkat dorongan banyak pihak, mereka pun bertunangan sejak beliau, dengan status kedua-duanya masih sama-sama terdaftar sebagai santri di pesantren yang berbeda. Armu mondok di kota itu karena ibunya sakit-sakitan, agar lebih mudah untuk sering pulang. Sementara Aisyah yang yatim sejak kecil, mendapatkan beasiswa di sebuah pesantren modern yang jaraknya lima jam perjalanan bus antarkota.

Ibunya memanggil, membuyarkan lamunanya tentang Armu. Aisyah pun mengambil dua rantang alumunium yang telah disiapkan. Ter-ater bukan sekadar mengantar makanan. Ia adalah penanda bahwa hubungan antartetangga masih hidup, bahwa silaturahmi dirawat dengan tangan dan langkah, bukan hanya ucapan.

Namun, Sya'ban kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di hati Aisyah. Ini mungkin adalah ter-ater terakhirnya di kampung, setidaknya untuk tiga tahun ke depan. 

Sejak seminggu lalu, surat keputusan itu resmi ia terima: ia mendapat panggilan di sebuah perusahaan besar di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebuah kesempatan besar, kata orang-orang. Kesempatan yang tidak semua anak kampung bisa dapatkan. Tapi bersama kesempatan itu, ada jarak yang harus diterima, ada kebiasaan yang perlu diadaptasikan, dan ada sosok terkasih yang harus terpisahkan. 

Armu memilih mundur setelah sekian tahun dia dan keluarganya telah menganggap Aisyah sebagai bagian dari keluarga. Bahkan ketika Aisyah memilih untuk  kuliah karena lagi-lagi mendapatkan beasiswa, Armu masih terus setia dan bersabar menunggu, sambil bekerja serabutan dan mengabdikan diri di pesantrennya setiap akhir pekan.

 Armu mundur justru ketika Aisyah sudah mulai menyematkan nama pemuda itu dalam daftar doanya. Aisyah cukup syok, tidak mengira semudah itu Armu memutuskan pertunangan. Senja di tepi pantai menjadi saksi pertemuan mereka.

"Silakan kejar cita-cita tinggimu, Neng. Jangan jadikan aku sebagai penghalang," ujar Armu

"Tapi kan Kakak bisa ikut menyusul ke Malaysia... bisa bekerja di sana juga," usul Aisyah.

"Aku tidak bisa, Neng. Ibu sakit-sakitan. Kalaupun toh aku menyusul, mau kerja apa? Ijazah formal pun aku tidak punya. Sejak lulus SMP, jarak di antara kita semakin jauh. Neng semakin melesat ke angkasa menjadi bintang, dan aku di sini masih menjadi bintang laut yang merayap."

"Bagaimana jika setelah kontrakku habis, kita menikah melanjutkan rencana yang tertunda? Aku akan punya tabungan, insyaAllah."

"Itulah yang aku tidak bisa, Neng. Pantang bagi keluarga kami untuk memakai uang dari pihak perempuan. Memang kami miskin harta, tapi kami masih punya harga diri. InsyaAllah besok perwakilan keluargaku akan ke rumahmu untuk meminta maaf dan memutuskan pertunangan kita."

Suara Armu yang tampak tenang, terdengar bagai gemuruh topan di telinga Aisyah. Sungguh keputusan yang berat bagi keduanya. Kemudian, mereka berdua pun sama-sama menangis dengan caranya masing-masing.

Hari ini, Aisyah melangkah menyusuri jalan setapak, melaksanakan perintah ibunya untuk ter-ater. Hujan telah berhenti, menyisakan genangan kecil yang memantulkan langit kelabu. Rumah Bu Ramlah adalah tujuan pertama. Perempuan sepuh itu menyambutnya dengan senyum lebar.

“Masyaallah, ada yang ter-ater ,” ucap Bu Ramlah sambil menerima rantang. “Ibumu sehat?”

“Alhamdulillah, Bu.”

Bu Ramlah menatap Aisyah agak lama, seolah ingin mengatakan sesuatu. “Kudengar kamu akan pergi jauh.”

Aisyah terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Insyaallah, Bu. Setelah Ramadan.”

Bu Ramlah menghela napas pelan. “Pergilah kalau itu baik. Tapi jangan lupa pulang, apapun yang terjadi. Kampung ini selalu menunggu.” Kata-kata itu menempel di dada Aisyah, lebih lama dari yang ia duga. 

Setelah dari rumah Bu Ramlah, Aisyah menuju kediaman Pak Karim. dia menarik nafas berkali-kali, mempersiapkan mental. Setiap tahun ibunya selalu ter-ater ke Pak Karim, sehingga tahun ini juga terus dipertahankan. Jika tidak, bisa jadi hubungan mereka menjadi ikut retak, seiring putusnya pertunangan Aisyah dan Armu.

Rumah Pak Karim berada di ujung kampung. Lelaki tua itu sedang duduk di beranda, memintal jaring nelayan yang sudah jarang ia pakai. Ketika Aisyah datang, ia tersenyum sambil bercanda seperti biasa.

“Wah, ter-ater datang bersama calon orang luar negeri,” katanya sambil tertawa kecil.

Aisyah ikut tertawa, meski hatinya tak sepenuhnya ringan. “Pak Karim selalu saja.”

“Orang pergi boleh,” lanjut Pak Karim, nada suaranya tiba-tiba lebih serius, “asal tahu jalan pulang.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Aisyah terasa seperti pesan yang harus disimpan baik-baik. Mereka tidak menyinggung Armu sama sekali.

Siang harinya, kampung semakin ramai. Anak-anak berlarian membawa plastik berisi kue, ibu-ibu saling menyapa dari satu rumah ke rumah lain. Ter-ater menjelma jembatan: antara yang kaya dan yang sederhana, antara yang lama dan yang baru. Biasanya, pada sore harinya kegiatan penduduk berpusat di area perkuburan umum, untuk melaksanakan tradisi membersihkan makam keluarga menjelang Ramadan.

Di rumah, Aisyah duduk di ambang pintu, memandangi halaman. Ibunya datang membawa dua cangkir teh hangat.

“Kamu kelihatan melamun,” kata ibunya. Sosok wanita tangguh yang selalu mendukung impian besarnya sejak kecil.

Aisyah menerima cangkir itu. “Ibu… apakah salah kalau aku pergi merantau?”

Ibunya terdiam sejenak, lalu duduk di samping Aisyah. “Tidak ada yang salah dengan pergi. Yang salah adalah lupa.”

“Lupa apa?”

“Lupa asalmu, lupa siapa yang pernah mendoakanmu diam-diam," Ibunya menyeruput teh. "Kuala Lumpur kota yang besar, Nak. Jauuuh sekali dibandingkan kondisi kota kita. Sepulangmu nanti, tetaplah rendah hati dan membumi. Perihal jodoh, Ibu doakan kuu mendapatkan laki-laki yang lebih pantas untukmu, dan Armu juga mendapat perempuan yang lebih pamtas untuknya. Melihat perbedaan kalian yang semakin mencolok, tidak sekufu, sepertinya memang tidak bisa dipaksakan untuk bertahan."

Aisyah menunduk. Ia tahu ibunya tidak sedang menahannya. Justru sebaliknya, ibunya sedang membekalinya dengan sesuatu yang lebih penting daripada koper dan ijazah.

Malam menjelang. Suara tadarus dari surau terdengar bersahut-sahutan. Aisyah membantu ibunya membereskan dapur. Rantang-rantang kosong telah kembali, sebagian disisipi kue balasan, sebagian lagi doa yang tak terucap. 

---------

Hari-hari berlalu cepat. Ramadan datang, lalu mendekati akhirnya. Lebaran pun tiba, disusul seminggu kemudian dengan Tellasan Topa', hari raya ketupat dalam tradisi Madura. Hari raya ketupat yang semula diperingati sebagai tanda kemenangan bagi yang berpuasa sunnah selama 6 hari, kemudian menjadi tradisi bagi siapapun. Aisyah berkeliling untuk ter-ater, sekaligus berpamitan kepada para kerabat dan tetangga, termasuk keluarga Armu. Namun, pemuda itu sedang keluar rumah. 

Malam sebelum keberangkatannya ke Malaysia, Aisyah berjalan sendirian ke surau. Ia duduk di serambi, memandangi langit yang cerah.

Ia teringat wajah-wajah yang ia temui saat ter-ater: senyum Bu Ramlah, candaan Pak Karim, nasihat ibunya, juga kakak perempuannya yanag tinggal di sebelah rumah. Tempat tinggal kakaknya yang bersebelahan dengan rumah ibunya, membuat Aisyah tidak berat untuk merantau, karena ibunya tidak akan kesepian dengan lima cucunya. Semua itu seperti benang-benang halus yang mengikatnya pada kampung ini.

Dalam hati, Aisyah berjanji: sejauh apa pun ia melangkah, ia akan tetap kembali. Bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan sikap—dengan kesediaan berbagi, menyapa, dan mengingat.

-----------

Beberapa tahun kemudian....

Kampung itu tetap sama. Jalan setapaknya masih basah saat hujan, suraunya masih ramai di bulan Sya’ban, dan ter-ater saling beredar dari rumah ke rumah.

“Anaknya Bu Siti katanya mau pulang, ya'" kata orang-orang di surau. 

"Iya, kalau musim ter-ater begini jadi ingat ke Aisyah," timpal lainnya.

"Katanya dia pulang mau nikah aja, terus balik ke Malaysia lagi sama suaminya  yang Pak Cik itu," sahut yang lain. 

"Akhirnya Aisyah pulang juga, ya. Mungkin nunggu ada calon, barulah Aisyah mau pulang. Biar istrinya Armu gak cemburu, hehehe...!" canda ibu-ibu di teras-teras rumah sambil menunggu anak-anak mereka yang ter-ater kembali ke rumah.

Di negeri jiran, Aisyah bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia. Beberapa tahun lalu dia datang sendirian ke Kuala Lumpur. Namun, kali ini dia pulang bersama rombongan calon suaminya.

Sembari berpamitan, tak lupa dia "bertukar juadah" dengan para tetangga di apartemennya. Kebiasaan berbagi makanan telah mendarah daging dalam jiwanya, dimana pun dan kapanpun, selamanya




Mengupload: 4075952 dari 4075952 byte diupload.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Pidato Untuk Anak-anak (Tema SYUKUR NIKMAT)

Cerpen Kontemplatif